Khotbah Perjanjian Baru

Bermegah dalam Penderitaan demi Penderitaan

Inilah yang diungkapkan oleh Paulus untuk memberikan kekuatan, untuk memberikan penghiburan kepada jemaat yang ada di Roma saat mereka mengalami situasi yang sulit dalam kehidupan mereka karena penganiayaan. Demikian juga hal ini ditujukan bagi kita semua yang akan dan sedang mengalami kesengsaraan dalam hidup di dunia saat ini. Kembali ke pertanyaan di awal tadi. Kalau memang begitu kenyataan yang terjadi saat kita mengikut Tuhan Yesus, mudah atau sulit jadi orang Kristen itu? Pasti, Saudara bisa menjawabnya dengan mantab!

Saudara, kita sudah belajar bagaimana bermegah dalam kesengsaraan. Kesengsaraan menimbulkan apa? Ketekunan. Ketekunan menimbulkan apa? Tahan uji. Tahan uji menimbulkan apa? Pengharapan.

Dari firman Tuhan itu kita belajar bahwa semakin dalam kesengsaraan, semakin dalam kekuatan iman yang diberikan Tuhan. Nah, saya ingin memperagakan bagaimana maksud firman Tuhan ini. Tetapi, sebelumnya, saya minta tolong apakah ada seorang bapak bisa bantu saya? (seseorang maju ke mimbar). Dengan bapak siapa? Junaedi. Saya membawa palu dan paku (menunjukkan kepada jemaat). Paku ini menggambarkan iman kita kepada Tuhan Yesus. Sedangkan palu ini adalah tribulations. Tribulum atau kesengsaraan yang mungkin harus kita hadapi dalam kehidupan ini. Saat palu ini diayunkan ke atas paku, apa yang terjadi? (meletakkan paku di atas balok kayu lalu memukul kepala paku dengan palu). Paku menancap di balok kayu. Pak Juanedy, coba sekarang pakunya dicabut! (Pak Juanedy dengan mudah mencabut paku). Bisa Pak? Bisa, gampang. Mengapa pakunya gampang dicabut? Nancepnya kurang dalem. Ada yang lain? Memukul pakunya kurang banyak. Ada lagi? O ya… mukul pakunya kurang keras. Mungkin ndak, Saudara… kalau palune kurang gede? Mungkin. (Mengambil palu yang lebih besar. Memakukan lagi paku di balok kayu dengan palu yang lebih besar). Pak Junaedy, coba tolong dilepas pakunya! Susah. Susah? Masak tidak bisa? (Pak Junaedy berusaha dan berhasil mencabut paku). Loh itu bisa?! Bisa, tapi lebih susah. Kenapa? Karena semakin menancap ke dalam sehingga sulit untuk dicabut.

Nah, sekarang saya pakukan lagi dengan palu yang besar ini (mengambil palu lagi yang lebih besar dari kedua palu yang ada. Memakukan paku pada balok kayu). Coba sekarang dicabut Pak… (Pak Junaedy berusaha mencabut tapi tidak berhasil). Susah sekali. Saya tidak bisa. Nyerah pak Andy.

Paku ini menjadi sulit dicabut karena menancap lebih dalam. Inilah yang kita pelajari saat ini. Apa pun palu kesengsaraan yang menimpa kita, paku iman ini harus menancap lebih dalam dan sulit dicabut. Sekarang, Saudara… kalau pada saat dipakukan tadi paku ini tidak saya pegang; kira-kira bisa nancep nggak? Nggak bisa. Paku akan berlari ke sana kemari. Karena itu, ketika tribulum itu terjadi dalam kehidupan Saudara, tetaplah berada di dalam pegangan tangan Tuhan. Kalau tidak, Saudara akan terlempar semakin jauh dari Tuhan. Kedua, besar-kecilnya palu bukan masalah. Palu kesengsaraan kecil, sedang atau besar bukan di situ masalahnya. Mungkin Saudara ingin yang kecil saja. Tidak masalah. Tapi, mau nggak setiap hari Saudara harus dipukuli berkali-kali supaya pakunya nancep dalam? Atau, Saudara maunya langsung yang besar… jadi sekali pukul langsung nancep dalam?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *