Khotbah Perjanjian Lama

Bermurah Hati sebagai Bukti Kasih

Ulangan 15:1-11

Oleh: Pdt. Em. Stefanus Semianta

“Apa bedanya antara orang yang pergi ke gereja dan orang yang pergi ke Gunung Kawi?”  Pernahkah Anda mendengar pertanyaan semacam ini ? Terhadap pertanyaan tersebut, ada yang menjawab, “Ya sama saja, karena baik orang yg pergi ke gereja maupun ke Gunung Kawi sama-sama punya tujuan yaitu mencari berkat Allah.”  Benarkah demikian?  Ada pula yang berkata: ”Oh itu tidak sama, karena orang yang pergi beribadah ke gereja motivasinya untuk bersyukur.  Ia bersyukur atas pemeliharaan Tuhan yang sudah Tuhan berikan di dalam hidupnya secara terus-menerus untuk segala kebutuhannya, dari dulu sampai saat ini.  Oleh karena itu ia datang ke gereja tujuan utamanya bukan untuk “minta” atau “mencari” berkat, tetapi untuk bersyukur. Tetapi orang yang pergi berziarah ke Gunung Kawi, motivasi utamanya adalah  mencari berkah untuk kehidupan mereka (entah itu cari penglaris, jodoh, kesuburan, naik pangkat, dll).  Semua persyaratan diusahakan untuk dipenuhi, tetapi tujuan utamanya  adalah supaya yang dimau menjadi kenyataan.  Orang tidak akan menyembah penguasa Gunung Kawi itu  dengan tulus, tetapi ada pamrihnya.”

Dalam ibadah gerejawi, ketika ungkapan syukur itu dinyatakan secara simbolik dengan nyanyian syukur, doa, persembahan, dan kehadiran, maka ia harus memiliki implementasi atau praktiknya dalam kehidupan konkret sehari-hari umat Allah bersama Tuhan dan sesamanya. 

Pengakuan bahwa Tuhan sudah memelihara hidup kita, harus dinyatakan dalam sikap mau peduli kepada orang-orang di sekitar kita yang sedang dalam kesulitan.  

Menurut kitab Ulangan, hal kepedulian, keprihatinan, yang ditindaklanjuti dalam memberikan bantuan, bukanlah sesuatu yang sifatnya fakultatif (dilakukan boleh, tidak dilakukan juga tidak masalah), melainkan adalah kewajiban yang harus dijalankan.  Dengan demikian, memberikan pertolongan kepada mereka yang miskin harus menjadi sikap iman dan tidak sekadar ungkapan perasaan belas kasihan yang romantis.

Mengapa ini sangat ditekankan oleh penulis kitab Ulangan?  Karena suasana kehidupan ibadah umat Allah pada zaman ini sudah berubah menjadi formalitas yang tidak lagi berpengaruh pada etika moral umat Israel.  Upacara-upacara masih marak dilakukan tetapi kering, bahkah Yahweh (Tuhan Allah) sudah diturunkan derajatnya disamakan dengan salah satu Baal.  Di sisi lain penyembahan kepada ilah-ilah asing demikian merajalela. Kemakmuran mereka hanya membuahkan disintegrasi dan ketegangan antara yang kaya dan sebagian besar masyarakat yang miskin.  Keadilan jadi masalah besar, sementara penindasan  dari yang kuat kepada yang lemah kian menjadi-jadi, ditambah lagi kebobrokan moral hidup umat Allah.

Dalam situasi semacam itu, penulis kitab Ulangan mengingatkan bahwa kelangsungan hidup mereka terancam bila mereka terus-menerus mendurhaka kepada Tuhan dan tidak membawa diri secara benar di hadapan Tuhan sebagai umat Allah.  Namun berkat Tuhan akan diberikan kepada mereka bila mereka kembali berbalik setia kepada Tuhan (bertobat), tetapi sebaliknya hidup mereka terancam bila mereka tidak bertobat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *