Khotbah Perjanjian Baru

Berpuasa

Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Matius 6:16-18

Kewajiban agama terakhir yang disinggung oleh Tuhan Yesus di Matius 6 adalah berpuasa. Dalam Alkitab berpuasa bukanlah praktek relijius yang asing. Kata dasar “puasa” muncul 68 kali dalam Alkitab (perhitungan berdasarkan LAI:TB). Para pengikut Yohanes Pembaptis maupun golongan Farisi rutin berpuasa (9:14; Luk 5:33). Orang-orang Farisi bahkan berpuasa dua kali dalam seminggu (Senin dan Kamis), dan mereka sangat membanggakan hal tersebut (Luk 18:12). Gereja mula-mula juga menerapkan puasa, terutama dalam situasi-situasi yang khusus (Kis 13:2-3; 14:23). Salah satu tulisan Kristen kuno di akhir abad ke-1 Masehi (disebut Kitab Didachē) memuat nasihat kepada orang-orang Kristen untuk berpuasa di Hari Rabu dan Jumat supaya tidak sama dengan orang-orang Farisi yang munafik.

Di Matius 6:16-18 Tuhan Yesus tidak memerintahkan para pengikut-Nya untuk berpuasa. Ia mengasumsikan bahwa mereka sudah mempraktekkannya. Ia hanya mengajarkan tentang cara berpuasa yang benar.

Berpuasa yang keliru (ayat 16)

Sebagaimana dalam hal bersedekah (6:1-4) dan berdoa (6:5-13), sesuatu yang rutin dilakukan bukan berarti telah dilakukan secara benar. Ada banyak macam kesalahan dalam hal berpuasa, namun ayat 16 ini hanya menyoroti dari sisi motivasi. Beberapa orang yang mempraktekkan puasa telah berlaku munafik.

Apa yang dilakukan oleh mereka? Mengapa tindakan itu disebut munafik?

Orang-orang munafik melakukan dua hal supaya orang lain tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Pertama, mereka memasang wajah muram (ayat 16a). Kata Yunani skythrōpos digunakan untuk menggambarkan kesedihan para pegawai Firaun yang dipenjara bersama-sama dengan Yusuf (Kej 40:7 LXX). Kata yang sama juga dipakai untuk menggambarkan kesedihan dan keputusasaan dua murid yang sedang memikirkan kematian Tuhan Yesus (Luk 24:17). Dalam salah satu kitab apokrifa, kata skythrōpos dikenakan pada suami yang memiliki isteri jahat (Sirakh 25:23). Semua penjelasan ini menunjukkan bahwa skythrōpos disebabkan oleh kesedihan yang tidak biasa. Seperti itulah wajah yang dipasang oleh orang-orang Farisi pada waktu mereka berpuasa. Mereka benar-benar terlihat sedang sangat murung.

Kedua, mereka mengubah air mukanya (ayat 16b). Secara hurufiah kata kerja aphanizō (LAI:TB “mengubah”) mengandung arti “merusakkan” (6:20) atau “melenyapkan” (Kis 13:41; Yak 4:14). Kita tidak tahu persis sejauh mana mereka membuat wajah mereka terlihat “rusak” atau “lenyap”. Mereka mungkin tidak merusakkan wajah mereka secara ekstrim sampai tidak dapat dikenali. Jika ini yang mereka lakukan, tujuan untuk dilihat dan dipuji orang tidak akan tercapai. Mereka mungkin menaruh kain kabung dan menaburkan abu di wajah maupun kepala mereka.

Dua tindakan di atas dilakukan mereka dengan satu tujuan: “supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (ayat 16c). Di mata orang lain mereka terlihat begitu saleh. Mereka tidak hanya terlihat sedang berpuasa. Mereka juga tampak berpuasa secara sungguh-sungguh. Namun, benarkah demikian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *