Renungan Berjalan bersama Tuhan

Bersaksi?

Bersaksi?

2 Timotius 4:1-8

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Timotius 4:2). Ketika kita membaca bagian ini dan kemudian merenungkannya dengan saksama, apa reaksi kita? Ada orang yang berkata, “Ayat ini bukan untuk saya, tetapi untuk hamba Tuhan atau penginjil yang memang sudah dipersiapkan di sekolah teologi.” Yang lainnya berkata, “Bagaimana saya dapat memberitakan firman Allah karena saya tidak pernah belajar teologi.” Atau “Saya takut memberitakan firman karena saya ini orang biasa, awam, jemaat kecil ….” Yang lain lagi berkata, “Wah, kalau merumpi saya jago, tapi kalau memberitakan firman … siapa yang berani? Kalau sampai salah, bisa-bisa saya masuk neraka!”

Yang pasti ada banyak alasan yang bisa kita lontarkan jika kita dipanggil untuk memberitakan firman Tuhan. Ada 1001 alasan bisa kita buat untuk mengatakan bahwa yang sebenarnya “saya tidak mau, bukan tidak bisa!” Apa yang dimaksud Paulus dengan bagian ini? Paulus menjelaskan identitas diri kita sebagai orang-orang yang telah ditebus dan dibeli oleh Kristus untuk menjadi anak-anak Allah, milik kesayangan-Nya. Dengan status itu, maka kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan harus bisa menjelaskan peran dan panggilan kita di dunia ini. Sama halnya ketika orang bertanya tentang kehidupan orangtua, kakek nenek, saudara-saudara kita dan sebagainya. Jika ada orang yang bertanya tentang keluarga kita kapan pun dan di mana pun kita berada, kita pasti bisa menjelaskan dengan baik. Tidak perlu ada sekolah atau kuliah khusus untuk menjelaskan keberadaan keluarga kita. Itulah yang dimaksud Paulus dengan “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya”. Ketika orang bertanya tentang iman kita, ketika orang menanyakan pergumulan hidup kita, ketika orang lain melihat kita menyelesaikan masalah demi masalah, semua itu merupakan bagian dari kesaksian nyata hidup kita secara tidak langsung. Suatu kesaksian yang dinyatakan melalui kehidupan nyata kita jauh lebih penting daripada bila kita menyampaikan berita Injil kepada orang lain namun tidak melakukannya dalam realitas hidup sehari-hari.

Bagaimana kita dapat setiap saat  menyampaikan berita Injil? Itu dimulai dari sejauh mana kita semakin mengenal Tuhan Yesus dengan benar. Tanpa pengenalan yang benar, kita tidak mungkin memberitakan Injil dengan benar! Pengenalan yang benar terhadap Tuhan Yesus akan memampukan kita menyampaikan berita Injil kepada siapa pun melalui kehidupan kita, bahkan kita akan dimampukan untuk saling menegur dan menguatkan. Pengenalan akan Tuhan dimulai dari kesetiaan kita terhadap firman Tuhan karena tanpa mau mengenal firman Tuhan, tidak mungkin kita bisa mengenal Allah kita. kehendak-Nya itu ada di dalam kebenaran firman Tuhan. Ketika kita setia kepada Firman Tuhan, maka kapan pun orang bertanya tentang kehidupan iman kita, tentang Tuhan yang kita percayai, maka kita pasti dapat menjawab dengan baik. Selain setia merenungkan firman Tuhan, cara berikutnya ialah melalui kehidupan doa kita. Dengan berdoa, kita akan menjadi semakin mengenal kehendak Allah. Pengalaman kehidupan doa juga bisa memampukan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siapa pun di mana pun kita berada. Itulah kesaksian hidup kita ketika kita dapat menjawab mereka. Marilah kita terus menyadari akan identitas diri kita sebagai anak-anak Tuhan yang mencerminkan bahwa Dia hidup di dalam diri kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *