Khotbah Perjanjian Baru

Bersedekah

Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Matius 6:1-4

Bagian ini masih berkaitan erat dengan bagian sebelumnya. Kata Yunani di balik “kewajiban agamamu” di 6:1 adalah sama persis dengan “hidup keagamaanmu” di 5:20, yaitu dikaiosynē. Jadi, pasal 5:17-48 dan 6:1-18 sama-sama berbicara tentang kebenaran.

Walaupun sama-sama menyoroti kebenaran, tetapi penekanannya agak berbeda. Pada bagian sebelumnya Tuhan Yesus lebih melihat kebenaran dari sisi moral (jangan berzinah, jangan bersumpah, jangan memusuhi orang lain, dsb), sedangkan di bagian ini Ia lebih ke arah ritual (memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa). Perbedaan inilah yang mendorong penerjemah LAI:TB untuk memilih “hidup keagamaan” di 5:20 dan “kewajiban agama” di 6:1.

Keterkaitan antara dua macam kebenaran tersebut perlu untuk digarisbawahi. Sebagian orang Kristen cenderung hanya mementingkan salah satu. Ada yang terlihat begitu saleh di gereja tetapi menjadi batu sandungan di keluarga, sekolah, maupun tempat kerja. Ada pula yang berperilaku baik, namun tidak bergairah terhadap hal-hal gerejawi. Orang-orang Kristen yang benar pasti menjaga keseimbangan antara kebenaran moral dan ritual. Dengan kata lain, kebenaran (dikaiosynē) seharusnya menjadi sebuah gaya hidup. Di manapun dan kapanpun, kita akan hidup secara konsisten, yaitu di dalam kebenaran.

Bersedekah yang keliru (ayat 1-2)

Pemberian sedekah merupakan salah satu kewajiban agama yang sudah mengakar dalam masyarakat Yahudi. Semua orang yang tidak tergolong “miskin” memberikan sedekah. Itulah sebabnya, 6:1-4 tidak membahas tentang “Apakah sedekah perlu diberikan?,” melainkan “Bagaimana memberi sedekah yang baik?”

Ketaatan terhadap hal ini bukan hanya bersentuhan dengan aspek relijius, melainkan juga aspek moral dan sosial. Pemberi sedekah tergolong orang yang taat dalam beribadah (relijius) dan baik hati (moral). Apa yang dilakukan oleh mereka sangat bermanfaat bagi orang-orang miskin (sosial).

Dalam konteks masyarakat Yahudi yang sudah tidak asing lagi dengan kemiskinan (bdk. Yoh 12:8a “karena orang-orang miskin selalu ada padamu”), nilai penting sedekah tidak dapat diremehkan. Pemberi sedekah ibarat penyambung kehidupan bagi orang-orang miskin. Di tengah situasi semacam ini, dua macam bahaya bisa muncul. Dari pihak penerima sedekah, mereka bisa saja tergoda untuk menggantungkan hidup pada pemberi sedekah (menghargai mereka secara berlebihan). Dari pihak pemberi sedekah, mereka sangat mudah tergoda pada kesombongan (menunjukkan diri sebagai orang yang baik hati dan merasa dibutuhkan). Hal inilah yang diantisipasi dan dikiritisi di 6:1-2.

Tuhan Yesus melarang para pengikutnya untuk memamerkan sedekah di depan umum (ayat 1). Larangan ini tampaknya merupakan kritikan terhadap orang-orang munafik pada waktu itu (orang-orang Farisi dan ahli Taurat). Dalam gambaran yang sangat dramatis (entah bersifat hurufiah atau figuratif), Tuhan Yesus melarang kita untuk “mencanangkan” sedekah (ayat 2, salpisēs). Menurut kamus, “mencanangkan” berarti membunyikan canang (gong kecil) sebagai tanda ada pengumuman, pernyataan, atau pertunjukan di depan publik. Berbagai versi Alkitab Inggris menerjemahkan: “membunyikan terompet.” Kata kerja salpizō di Alkitab memang berarti “meniup terompet/sangkakala” (1 Kor 15:52; Why 8:6, 7, 8, 10, 12, 13; 9:1, 13; 10:7; 11:15). Perbedaan terjemahan antara LAI:TB dan versi Inggris didorong oleh perbedaan budaya. Pada zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia, pengumuman atau pertunjukan publik biasa didahului dengan pemukulan gong, bukan peniupan terompet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *