Renungan Berjalan bersama Tuhan

Bertambah dan Berkurangnya Sahabat

Bertambah dan Berkurangnya Sahabat

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya” (Amsal 19:4)

Siapa relasi kita yang sesungguhnya? Siapa yang menjadi sahabat sejati itu? Lalu apa yang menentukan relasi persahabatan bisa langgeng? Hal-hal apa yang memicu sehingga relasi itu retak, bubar, bahkan putus hubungan sampai seperti tidak saling mengenal lagi? Amsal mengamati pola hidup masyarakat umum, termasuk bagaimana anak-anak Tuhan bermasyarakat. Ternyata “kemiskinan” bisa memisahkan relasi antarsahabat. “Kemiskinan.” Apa artinya? Kemiskinan bisa mempunyai arti kegagalan, kejatuhan, kemelaratan, berada di pihak yang tersisih atau dianggap orang kecil. Status itulah yang membuat orang masuk dalam komunitas tertentu yang tidak banyak ada, yakni komunitas orang miskin.

Keadaan seperti itu justru lebih banyak ditinggalkan orang daripada dicari orang. Alasannya banyak. Pertama, karena manusia suka “mengeluh”. Mungkin jika ada mata pelajaran tentang mengeluh, maka bisa disebut ilmu “sambatologi”––“ilmu” yang membuat orang sambat (mengeluh) terus-menerus. “Ilmu” ini tidak usah dipelajari, semua orang sudah pasti bisa menyerapnya dengan baik. Hidup yang tidak pernah bersyukur, tetapi selalu merasa kurang melahirkan keluhan. Mengapa orang menjauhi mereka yang miskin, gagal, terjatuh, dan sejenisnya? Karena ia takut kalau-kalau akan mendapatkan keluhan! Daripada mendengarkan keluhan mereka, lebih baik ia menghindar. Kedua, pada dasarnya manusia sulit sekali memberikan pertolongan atau bantuan kepada orang lain, apalagi bila orang itu dalam keadaan miskin, gagal, telah terjatuh, dan sebagainya. Orang yang miskin, bukan saja akan mengeluh, tetapi juga akan meminta pertolongan. Daripada diminta bantuan, maka lebih baik menjauhinya terlebih dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *