Khotbah Perjanjian Baru

Bertobat atau Kapok?

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari

Ibrani 6:4-8

Ada seorang anak kecil kedapatan menyontek dan dilaporkan oleh gurunya kepada ayahnya. Karena merasa dipermalukan, ayahnya memukul anak kecil itu dengan rotan. Agar ayahnya berhenti memukul, si anak berteriak-teriak sambil menangis: “Ampun pa… ampun… saya kapok… tidak akan melakukan itu lagi!” Ayahnya berhenti memukul dan anak itu memang tidak mengulangi perbuatan itu lagi karena takut dihukum. Namun, tanpa dia sadari, dia tumbuh dengan kemarahan yang tersembunyi dalam hati terhadap ayahnya. Dia merasa ayahnya yang telah bersikap sangat keras terhadapnya, hukuman yang diterimanya tidak sebanding dengan kesalahan yang diperbuatnya. Akibatnya, seluruh hidupnya dikendalikan oleh kemarahan itu. Dia menjadi orang yang sangat mudah meledak hanya karena hal-hal kecil yang tidak berkenan di hatinya.

Ketika dewasa dan tidak lagi berada di bawah kendali ayahnya, dia mengulangi kesalahan masa kecilnya, menyontek, tetapi dengan skala yang lebih besar, korupsi. Ketika kejahatannya terbongkar, dia bukannya bertobat, tetapi justru berusaha dengan berbagai cara untuk menutupi kesalahannya, sampai akhirnya dia harus berurusan dengan yang berwajib. Ketika menikah, tanpa sadar, dia memperlakukan isteri dan anak-anaknya dengan sangat keras, persis seperti yang dilakukan ayahnya terhadap dia sehingga istri dan anak-anaknya sangat menderita.

Dimana letak masalahnya? Masalahnya adalah, orang tsb tidak pernah bertobat, hanya kapok saja.

Apa bedanya bertobat dengan kapok?

Bertobat

Pertama, bertobat, dimulai dari kesadaran yang mendalam akan betapa seriusnya dosa di hadapan Allah, dan betapa dalamnya kita telah jatuh, sekalipun di mata manusia apa yang kita lakukan nampak tidak berarti. Menyontek, di mata manusia nampak tidak berarti, tetapi di hadapan Tuhan dosa tetap dosa, tidak ada dosa kecil atau dosa besar, dan upah dosa adalah maut (Rm 6:23a). Namun kesadaran akan dosa saja tidak cukup, sebab kesadaran akan dosa saja hanya akan membuahkan perasaan bersalah yang bisa justru membuat orang putus asa dan hancur. Apalagi kalau iblis mengambil kesempatan itu untuk mengintimidasi kita sebagai orang yang sudah rusak dan tidak lagi bisa diampuni.

Kedua, bertobat membutuhkan kesadaran yang mendalam akan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus (Rm 6:23b), akan betapa besar kasih Allah sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16), bahwa dosa apapun yang telah kita lakukan, oleh darah Tuhan Yesus Kristus, bisa diampuni.

Ketiga, bertobat membutuhkan kejujuran dan ketulusan hati untuk mengakui semua yang telah kita lakukan tanpa berdalih atau membela diri, bukan karena takut dihukum, melainkan karena kesadaran yang mendalam akan betapa besar kasih karunia Allah yang telah mati untuk segala dosa kita, dan  bahwa dosa yang kita lakukan telah mendukakan hati-Nya (1 Yoh 1:9)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *