Khotbah Perjanjian Baru

Bertobat atau Kapok?

Keempat, bertobat adalah berbalik dari dosa, artinya, dengan segenap hati meninggalkan perbuatan dosa yang telah kita lakukan dan sebagai gantinya kita melakukan yang sebaliknya. Orang yang bertobat tidak berbuat dosa lagi (1 Yoh 3:6,9), bukan berarti tidak bisa jatuh, melainkan tidak lagi dengan sengaja berbuat dosa (Ibr 10:26).

Kelima, bertobat adalah bukti bahwa kita benar percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat kita secara pribadi, dan oleh karenanya kita diselamatkan dari dosa dan maut.

Kapok

Pertama, kapok adalah terpaksa berhenti berbuat dosa karena takut dihukum. Maka, jika orang yang kapok tersebut merasa tidak ada lagi yang bisa menghukumnya, dia akan melakukannya lagi bahkan dengan skala yang lebih besar.

Kedua, kapok hanya berurusan dengan perilaku lahiriah, bukan manusia batiniahnya; dengan kata lain, kapok hanya menangani bagian luar, bukan akar dosa. Oleh karena itu, orang yang berhenti berbuat dosa hanya karena kapok dengan akibat yang harus dideritanya, tidak akan bisa menahan dorongan yang sangat kuat dari dalam dirinya untuk mengulangi dosanya, bahkan bisa lebih jahat dari sebelumnya.

Ketiga, kapok adalah perilaku setan-setan ketika berhadapan dengan Tuhan. Mereka gemetar ketakutan tetapi tidak mau bertobat, terus melawan dan tidak mau menyembah-Nya (Yak 2:19)

Keempat, kapok tidak menghasilkan keselamatan sebab orang yang hanya kapok sesungguhnya belum bertobat dan belum menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya.

Orang murtad yang dibicarakan di surat Ibrani adalah orang yang walaupun pernah diterangi hatinya, pernah mengecap karunia sorgawi, pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, pernah mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, tetapi sesungguhnya belum bertobat. Mereka bagaikan tanah yang  yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, tetapi tidak menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, melainkan menghasilkan semak duri dan rumput duri.

Orang yang dikisahkan di awal khotbah ini adalah salah satu contoh orang yang seperti itu. Dia hanya kapok karena sang ayah menghukum tanpa memberinya kesadaran akan betapa seriusnya dosa itu di hadapan Allah dan betapa besar kasih karunia-Nya. Itupun dia lakukan karena dia merasa dipermalukan, bukan karena mengasihi anaknya. Penghukuman itu sendiri secara tidak langsung telah membentuk image yang salah tentang Allah di lubuk hati sang anak, bahwa Allah itu seperti seorang hakim yang kejam yang setiap saat mengawasi dia dan siap menghukum setiap kesalahan kecil yang dilakukannya lebih dari yang seharusnya. Sangat jauh berbeda dari Allah yang berkasih karunia. Akibatnya sangat fatal. Dia bukan hanya menghancurkan dirinya sendiri, melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *