Khotbah Perjanjian Baru

Bertumbuh Menjadi Pelaku Firman

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Yakobus 1:19-22

Shalom, Saudara-saudara yang diberkati Tuhan… Saat ini saya akan membagikan berkat firman Tuhan dengan tema Bertumbuh Menjadi Pelaku Firman. Saya akan mendasari renungan kita dari Surat Yakobus 1:19 – 22.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

  Melalui Surat Yakobus ini kita diingatkan bahwa kita tidak cukup hanya rajin beribadah dan mendengarkan firman Tuhan saja, tetapi harus menjadi pelaku firman. Pertanyaannya Saudara-saudara, bagaimana supaya kita bisa bertumbuh menjadi pelaku firman. Dalam Surat Yakobus yang sudah kita baca tadi, Saudara-saudara… saya menemukan setidak-tidaknya ada tiga hal yang bisa membuat kita bertumbuh menjadi pelaku firman Tuhan.

Pertama, agar bisa bertumbuh menjadi pelaku firman, kita harus punya dasar sikap yang benar terhadap firman Tuhan. Ini yang paling penting. Sikap Saudara dan saya terhadap firman Tuhan akan menentukan hidup kita sehari-hari akan bertumbuh atau mati. Terkait hal ini, Yakobus menasihati kita dalam ayat ke-19: ”… setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”

Dalam ayat ini kita menemukan tiga nasihat terkait sikap yang benar terhadap firman Tuhan. Yaitu, pertama, cepat untuk mendengar; kedua, lambat untuk berkata-kata; dan ketiga, lambat untuk marah. Saudara, pada umumnya kita justru bersikap terbalik dari nasihat itu. Biasanya kita justru cepat untuk marah, cepat untuk berkata-kata, tetapi lambat untuk mendengar. Ini jelas sikap yang salah.

Cepat untuk mendengar yang dimaksudkan adalah cepat untuk mendengar firman Tuhan. Saudara, saat saya merenungkan nasihat ini, dibandingkan dengan mendengar gosip; saya ini kok merasa lambat untuk mendengar firman. Ini saya lho… bukan Saudara-saudara. Kalau saya coba pikir-pikir: Begitu ada fitnah… ada gosip… saya cepat sekali menangkap dan mendengar bahkan lalu mem-forward-nya sehingga menjadi viral. Apalagi kalau gosipnya itu tentang rahasia orang yang kita kenal. Semakin gosip disampaikan dengan bisik-bisik, saya justru semakin untuk cepat mendengar. Bagaimana dengan Saudara? Sama nggak ya?

Bagaimana dengan mendengar firman Tuhan? Saya pernah mendapati komentar seperti ini, “Pak, sambil buka HP… sambil Facebook-an, sambil WhatsApp-an, saya bisa kok tetap mendengar firman Tuhan. Sambil tetap ngobrol, otak saya bisa kok menangkap dan mengerti khotbah pendeta.” Saya katakan, “Benar. Sambil main HP, kita bisa mendengar firman Tuhan.” Masalahnya di mana, Saudara? Di hati. Benar telinga bisa mendengar, otak bisa memahami; tetapi dengan main HP, Facebook-an, WhatsApp-an, ngobrol, apakah kita bisa meresapi kebenaran firman Tuhan? Inilah yang dimaksud dengan ‘cepat mendengar firman Tuhan’; bukan sekadar mendengar dan mengerti, melainkan sampai merasuk ke dalam hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *