Renungan Berjalan bersama Tuhan

Betel, Tempat Allah Berkarya

Betel, Tempat Allah Berkarya

Kejadian 28:10-22

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Ketika kita tidur lelap dan bermimpi, pastilah sangat menyenangkan apalagi jika mimpi itu indah. Melalui mimpi, Allah berfirman kepada Yakub. Ketika dalam pengembaraan, hati Yakup diliputi kepenatan, ketakutan, dan kegelisahan karena ia akan dibunuh oleh sang kakak, Esau. Kemudian, Yakub pun tertidur dengan hanya beralaskan batu di alam terbuka karena kelelahan. Malam itu, Allah datang kepada Yakub melalui mimpi untuk menolong, menguatkan, menuntun, dan menyatakan rencana-Nya kepada Yakub.

Allah memakai sarana mimpi karena masyarakat pada waktu itu percaya bahwa mimpi dapat memuat pesan-pesan khusus yang datang dari Sang Mahakuasa. Firman Tuhan berbicara, “Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu ” (Kejadian 28:12).

Yakub tidak saja menyaksikan kemuliaan Allah yang agung, tetapi juga janji Allah yang dinyatakan bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar. Meskipun janji tersebut pernah didengar dari ayah dan kakeknya, tetapi kali ini Allah sendiri menyatakan secara pribadi kepadanya. “Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: ‘Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.’ Ia takut dan berkata: ‘Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga’” (Kejadian 28:16-17).

Yakub lalu menjadikan batu alas tidurnya sebagai tugu peringatan atas mimpinya. Tempat itu dinamainya Betel. Di situ juga terjadi peristiwa Yakub bernazar kepada Allah: Jika Allah menyertai Yakub sepanjang hidupnya, memberikan kecukupan sandang dan pangan, serta dapat kembali dengan selamat ke rumah ayahnya, maka ia akan mendirikan rumah Allah, suatu tempat untuk beribadah kepada Allah yang mahabesar dan mahakuasa.

Betel menjadi pengikat perjanjian antara Allah dan Yakub. Melalui tempat itu pula Yakub pergi “berkarier” dengan janji penyertaan Allah dan tujuan yang jelas, yakni kembali ke tempat di mana ia berbaring tanpa memiliki apa pun dan mempersembahkan kepada Allah sepersepuluh dari segala sesuatu yang diterimanya. Sama seperti Yakub, kita juga harus mengimani janji Allah bahwa dimanapun kita ditempatkan, Allah dapat menjadikannya sarana untuk menyatakan karya-Nya yang besar. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk memulai dari hal yang kecil, sederhana, tempat yang kelihatan tidak layak, tak berguna, namun bisa menjadi “tempat perjanjian” di mana Engkau menyatakan rencana-Mu. Tuhan, tolonglah aku supaya tidak terjebak dengan idealisme yang muluk, yang tidak rasional, bahkan hanya berupa angan-angan belaka. Ajarlah aku untuk hidup dalam realitas yang sederhana namun pasti karena di sanalah ada penyertaan-Mu.
  2. Tuhan, pimpinlah kehidupan pelayanan anak-anakMu supaya terus bergantung pada rencana Tuhan. Berikan kepekaan terhadap firman Tuhan karena di sanalah rencana-Mu dinyatakan. Engkau senantiasa memberikan tempat untuk kami berkarya. Oleh karena itu, ajarlah kami menerima ke mana pun Engkau menempatkan kami dan tetap mengerjakan pekerjaan-Mu yang besar dengan setia untuk kemuliaan nama-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *