Renungan

Bibir Orang Lain

Bibir Orang Lain

 

Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: “Naiklah ke mari,” daripada engkau direndahkan di hadapan orang mulia.

(Amsal 25:6-7)

 

Saya pernah melihat pemandangan yang memalukan dalam jamuan pernikahan. Sepasang suami istri bersikeras untuk duduk di sebuah meja tertentu walaupun dengan sopan para penyambut tamu mengingatkan bahwa itu bukan meja yang tepat. Sang suami membentak, “Kalian tidak tahu siapa saya?” Tidak ingin ada keributan lebih lanjut, para penerima tamu pun mundur. Wajah suami istri itu terlihat puas.

 

Tepat menjelang acara dimulai, pihak tuan rumah yang mengenal pasangan itu meminta mereka pindah tempat duduk karena tempat itu disediakan bagi para pejabat penting di negeri ini. Pasangan itu berdiri, berjalan di tengah tatapan ratusan orang menuju ke meja yang lain. Rasa malu tergurat di wajah mereka.

 

“Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: “Naiklah ke mari,” daripada engkau direndahkan di hadapan orang mulia” (Amsal 25:6-7). Konteks ayat ini sama seperti kisah tentang tamu pernikahan yang tidak tahu diri tadi. Pada masa itu orang yang menganggap diri penting suka menduduki tempat terdepan di dalam pesta agar terlihat orang lain. Tentunya tuan rumahlah yang mengatur siapa yang layak duduk di barisan terdepan. Kerap terlihat para prajurit memaksa mereka yang tidak tahu diri pindah ke barisan belakang.

 

Pesan Amsal ini sangat jelas. Dalam segala keadaan, hiduplah dan praktikkanlah kerendahan hati. Biarlah pujian dan pengakuan itu tidak keluar dari bibir kita sendiri, tetapi dari bibir orang lain.

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *