Renungan Berjalan bersama Tuhan

Budaya Individualistis

Budaya Individualistis

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

2 Yohanes 1:4-11

Ketika kita hadir dalam suatu komunitas, perkumpulan, atau lingkungan masyarakat, maka kelompok itu pasti akan membentuk pola berkumpul, yang lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Itulah asal mula budaya. Perkumpulan orang Solo sangat berbeda dengan paguyuban orang Jakarta atau Surabaya. Setiap daerah, wilayah, atau kelompok, bahkan yang kecil sekalipun, memiliki “budayanya” masing-masing. Bahkan budaya juga ada di dalam setiap keluarga. Itulah sebabnya keluarga yang satu tidak pernah memiliki kesamaan dengan keluarga yang lain. Budaya berkembang karena kita selalu berinteraksi dengan orang lain yang juga membawa budayanya sendiri.

Dari pengalaman hidup, kita dapat melihat bahwa unsur-unsur yang baik dalam suatu budaya bisa hilang dengan begitu mudah dan digantikan dengan pola hidup yang tidak baik. Contoh yang nyata ialah pola hidup gotong-royong. Kebiasaan yang mengajarkan kepada setiap orang untuk saling menolong dengan sukarela dan sukacita sudah semakin sirna dan digantikan dengan pola hidup individualistis yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau tahu tentang orang lain. Seabad atau bahkan setengah abad yang lalu, hampir setiap orang mengenal lingkungannya dengan baik, terlebih yang hidup di desa. Semua saling mengenal. Zaman sekarang berbeda, kita bisa tidak mengenal tetangga sebelah rumah, padahal hanya sebatas setengah tembok bata …. Itulah realitas hidup di kota besar.

 

Yang perlu kita perhatikan, bagaimana asal mula pola individualistis tersebut menjadi pola hidup orang-orang di kota besar pada umumnya, bahkan juga sudah mulai memasuki desa-desa? Bukankah sekarang antardesa saja sudah mulai bertikai? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini karena dibutuhkan penelitian yang saksama. Namun, berdasarkan pengamatan dan perkiraan—bukan melalui analisa studi yang akurat—orang-orang masa kini kadang kala tidak sempat memikirkan orang lain yang berada di sekitar mereka. Hal-hal terkecil, seperti relasi antarpribadi, sudah semakin berkurang. Setiap orang tidak sempat lagi memikirkan orang lain selain dirinya sendiri. Mengapa bisa demikian? Hal itu antara lain disebabkan oleh pola kerja kita yang sudah melampau batas jam kerja yang wajar sehingga kita mengalami kelelahan, kehabisan waktu, dan ingin cepat-cepat istirahat. Belum lagi perjalanan yang jauh dan macetnya jalan, yang semakin menambah kelelahan tubuh kita.

 

Selain itu,  tuntutan pekerjaan zaman sekarang semakin berat. Dunia kerja pada zaman ini diwarnai dengan persaingan-persaingan ketat. Siapa yang kuat akan mengendalikan roda ekonomi. Oleh karena itu, setiap pekerja dituntut untuk mengembangkan daya kreativitasnya dalam menarik konsumen. Bisnis dinilai berhasil bila orang dapat mempertahankan konsumen yang ada dan terus menarik konsumen baru. Itu semua membutuhkan pemikiran yang tidak mudah. Karena tidak mudah, kadang-kadang ada yang terkecoh untuk menghalalkan segala cara agar mendapatkan keuntungan. Persaingan dalam dunia yang seperti itulah yang selalu menimbulkan pertentangan, pergeseran atau penyingkiran. Dan itu bisa terjadi di antara rekan, sahabat, atau saudara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *