Renungan Berjalan bersama Tuhan

Bukan Aku, Ya Tuhan?

Bukan Aku, Ya Tuhan?

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 26:17-25

“Malam itu adalah malam yang kelabu, seperti langit yang sedang tertutup oleh gumpalan-gumpalan awan gelap, dan di sana sini terdengar suara guruh yang menggelegar disertai kilat yang mengerikan. Suasana yang kelabu itu dimulai ketika Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: “‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.’ Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: ‘Bukan aku, ya Tuhan?’” (Matius 26:21-22). Para murid sama sekali tidak tahu kalau salah seorang di antara mereka akan menyerahkan Guru mereka untuk disalibkan. Oleh sebab itu mereka sangat terkejut ketika Yesus menyatakan berita itu. Pertanyaan “Bukan aku, ya Tuhan?” adalah pertanyaan yang polos, jujur, dan benar-benar tidak tahu. Pertanyaan itu juga memohon agar Tuhan Yesus menegur, mengingatkan, dan meluruskan jika ada di antara mereka yang menyimpang.

Namun, sangat berbeda jika pertanyaan itu diajukan oleh Yudas Iskariot. Matius mencatat: “Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: ‘Bukan aku, ya Rabi?’ Kata Yesus kepadanya: ‘ngkau telah mengatakannya.’” Apakah memang Yudas Iskariot tidak tahu? Ataukah pura-pura tidak tahu supaya ia tidak dicurigai oleh teman-temannya? Apa jawab Tuhan Yesus? Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya” (Matius 26:25).

Kita perlu merenungkan pertanyaan Yudas itu dengan baik! Mengapa Yudas bertanya? Apakah Yudas tidak tahu bila nanti ia akan menyerahkan Tuhan Yesus kepada para imam kepala atau tua-tua Yahudi? Jelas tidak mungkin! Yudas pasti tahu. Kalau Yudas tahu, mengapa ia bertanya, “Bukan aku, ya Rabi?”

Apa makna pertanyaan Yudas itu? Pertama, pertanyaan itu menipu diri sendiri. Sudah jelas bahwa ia yang akan menyerahkan Yesus, mengapa masih bertanya lagi? Itu hanya kepura-puraan supaya kelihatan baik. Karena yang lain bertanya, maka Yudas pun bertanya, agar seimbang, seolah-olah kompak, sehati, dan sepenanggungan, dan tidak dilihat sebagai pengkhianat. Kedua, pertanyaan itu hanya basa-basi yang tidak ada artinya dan yang tidak memerlukan jawaban karena Yudas sendiri sudah tahu jawabannya. Ketiga, pertanyaan seorang pengkhianat. Biasanya seorang pengkhianat akan berlaku ramah, sopan, hormat, bahkan bisa lemah lembut. Namun, semua itu dilakukannya untuk tidak menimbulkan kecurigaan orang. Yudas adalah contoh nyata dari seorang pengkhianat. Amin.

Pokok Doa:

  1. Berdoalah untuk anak-anak Tuhan yang memiliki kehidupan iman yang setia dalam segala situasi dan kondisi, setia dalam kesaksian iman mereka, dan juga setia dalam kehidupan yang saling mengasihi.
  2. Berdoalah untuk anak-anak Tuhan yang mempunyai relasi yang setia dalam bersahabat, saling tolong-menolong pada saat mengalami kesulitan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *