Khotbah Perjanjian Lama

Bukan Karena Jasa-jasamu!

Bukan Karena Jasa-jasamu!

Ulangan 9:1-6

Oleh: Sepridel Hae Tada

Ada seorang dokter bedah kosmetik top di Singapura. Namanya ialah dr. Richard Teo. Profesi tersebut membuatnya menjadi seorang miliuner yang berhasil di usia 30an tahun. Membeli rumah mewah, vila, bahkan mobil Ferrari yang bernilai miliaran rupiah itu ibarat mengeluarkan uang receh dari kantongnya.

Keberhasilan yang luar biasa ini tidak dicapai dalam semalam dengan cara yang instan! Latar belakangnya dari sebuah keluarga miskin ini memacu semangatnya untuk bekerja keras supaya taraf hidupnya lebih baik. Hasilnya? Dia memiliki prestasi dan kekayaan di usia yang sangat muda bahkan melampaui orang-orang seumurannya. Pada masa puncak kesuksesannya ini, seorang temannya berkata kepada Richard Teo. “Richard, ayo ikut, kita kembali ke gereja” Dengan santainya ia menjawab, “Saya bisa mencapai semua itu tanpa bantuan Tuhan, jadi siapa yang perlu Tuhan? Saya bisa mencapainya sendiri.” Sungguh jawaban yang mencengangkan! Secara tidak langsung ia berkata bahwa kecerdasan, kecakapan, potensi diri, ketekunan, dan kerja keras adalah sumber dari segala keberhasilannya. Tidak ada kaitannya dengan Tuhan.

Mungkin kita geleng-geleng kepala. Kok ada orang Kristen seperti itu? Dalam keberhasilannya, ia justru melupakan Tuhan. Yang terlihat hanya dirinya di depan panggung dan lupa pada Tuhan yang berada di balik layar keberhasilan itu. Sesungguhnya, keberhasilan merupakan bagian dalam kehidupan kita juga. Namun, terkadang godaan untuk mengambil kredit atau pujian bagi diri sendiri begitu kuat.  Akibatnya, keberhasilan kita berakhir dengan sebuah sikap membanggakan diri, entah karena potensi, kecakapan diri, ataupun karena kerja keras kita.   Inilah faktanya, bahwa orang Kristen pun tidak kebal dengan hal yang demikian.  Kita mungkin mengira oleh karena kita pandai, maka kita dapat melalui ujian dengan nilai yang memuaskan.  Karena kita cakap bernegosiasi, maka proyek itu dapat dimenangkan.  Karena kita punya berbagai kualitas diri yang baik maka kita pantas menduduki posisi tertentu. Bahkan, kita juga bisa berpikir bahwa oleh karena kebenaran diri kitalah, karena kesalehan kita, maka Tuhan memberikan keberhasilan dalam hidup kita.  Dalam sikap membanggakan diri itulah, kita telah gagal di hadapan Allah.  Memang, tidak ada salahnya kita berhasil, namun kita perlu waspada dengan sikap membanggakan diri sendiri.

Oleh karena itu, jika kita mencapai keberhasilan, jangan pernah mengira bahwa itu hanya karena keunggulan diri kita. Mengapa demikian?  Ada dua hal yang perlu kita ingat.

Pertolongan Tuhan melampaui ketakutan diri kita (ay 1-3)

Perikop yang kita baca merupakan sebuah peringatan yang diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah Kanaan.  Pada saat itu bangsa Israel berada di dataran Moab, di seberang sungai Yordan, dan tengah bersiap untuk memasuki tanah Kanaan. Pada pasal 7 Musa memperingatkan Israel untuk tidak berpikir bahwa karena kebesarannya (jumlah yang banyak) maka mereka dipilih dan dikasihi Allah (7:7-8). Pasal 8 berisi peringatan supaya mereka tidak berpikir bahwa karena kekuatan dan kerja kerasnya maka mereka menjadi kaya dan makmur (8:12-17). Sekarang, di pasal 9, Israel diperingatkan supaya mereka tidak berpikir bahwa karena kebenaran moralnya sehingga mereka pantas menerima tanah perjanjian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *