Khotbah Perjanjian Lama

Bukan Sekadar Simbol

Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Ulangan 6:6-9

Tidak sukar untuk menemukan pernak-pernik atau dekorasi Kristiani di rumah-rumah orang Kristen: pigura dengan teks Alkitab tertentu atau doa tertentu, ornamen salib, dan sebagainya. Dari pandangan sekilas orang lain akan tahu bahwa penghuni rumah tersebut adalah orang-orang Kristen. Pertanyaannya, apakah kualitas kekristenan di rumah tersebut lebih daripada sekadar simbol? Bagaimana sebuah keluarga seharusnya menerapkan prinsip-prinsip Kristiani di dalam rumah?

Teks kita hari ini meurpakan salah satu persiapan penting sebelum bangsa Israel menaklukkan dan mendiami tanah Kanaan (6:1-3). Musa mengajarkan bagaimana bangsa Israel kelak dapat menjadi bangsa luhur dan makmur. Menariknya, persiapan ini berhubungan dengan pengajaran firman Tuhan kepada anak-anak di rumah. Dengan kata lain, pembentukan bangsa yang besar dimulai dari rumah yang kecil. Bagaimana orang tua mendidik anak-anak mereka akan menentukan bagaimana nasib suatu bangsa.

Melalui teks ini kita akan belajar bagaimana para orang tua seharusnya mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Usaha ini membutuhkan lebih dari sekadar ornamen dan dekorasi Kristiani di dinding rumah. Dibutuhkan lebih dari sekadar deretan perintah dan larangan yang perlu ditaati oleh anak-anak.

Pertama, memiliki hati bagi TUHAN dan firman-Nya (ayat 6).

Bagian ini mendahului perintah untuk mengajar anak-anak. Orang tua harus “memperhatikan” perintah-perintah TUHAN (LAI:TB). Kata Ibrani untuk “perhatikan” di sini seharusnya diterjemahkan “ada dalam hati” (semua versi Inggris).

Dalam budaya Israel, “hati” seringkali dianggap sebagai pusat kehidupan seseorang. Apa yang terpenting. Apa yang menggerakkan seluruh aspek kehidupan. Jadi, ini bukan sekadar “memperhatikan” (LAI:TB), seolah-olah ini hanyalah sebuah aktivitas visual atau intelektual. Ini tentang meletakkan sesuatu yang terpenting (firman TUHAN) di tempat yang terpenting (hati manusia).

Apa yang seharusnya ada dalam hati para orang tua? Semua perkataan TUHAN yang diperintahkan pada hari itu! Di antara semuanya, yang terpenting dicantumkan di ayat 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Nilai penting dari dua teks ini bagi bangsa Israel tidak terbantahkan. Setiap hari mereka mengucapkan ayat 4 dalam doa mereka. Inti seluruh perintah Allah termaktub dalam ayat 5 (Mat. 22:35-40).

Dua ayat di atas dapat diringkas menjadi satu kalimat: keesaan dan keutamaan TUHAN merupakan pondasi bagi hubungan kerohanian yang benar. Tanpa mengetahui dan mengakui keesaan dan keutamaan TUHAN, kita tidak akan mau dan mampu mengasihi Dia dengan segala totalitas kehidupan kita. Kita tidak menyisakan apapun dalam upaya kita untuk mencintai Dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *