Renungan

Bukan Tanpa Jarak

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu.

(Amsal 25:17)

“Bapak Pendeta di gereja kami rajin sekali berkunjung ke rumah-rumah jemaat,” tutur seorang warga gereja dalam sebuah percakapan seusai pelayanan. “Ibu mesti bersyukur dong mempunyai pendeta yang rajin berkunjung,” jawab saya. Ibu itu tersenyum, lalu berkata, “Tapi … ya itu Pak … kalau saya amat-amati, kenapa ya kunjungannya kalau tidak pas jam makan siang, ya pas jam makan malam?”

Tentu saja saya tidak tahu pasti mengapa pendeta itu berkunjung selalu bersamaan dengan jam makan siang dan jam makan malam. Namun, bukankah hal yang baik bisa diterima dengan kurang baik ketika ada sesuatu yang dirasakan kurang atau tidak pas?

“Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu” (Amsal 25:17).

Nasihat Amsal ini praktis sekali. Kita boleh berkunjung ke rumah teman, tetapi jangan terlalu sering. Kehadiran yang terlalu sering lambat laun akan dianggap sebagai gangguan dan bukan mempererat ikatan kekeluargaan. Teman kita juga membutuhkan waktu pribadi bebas gangguan untuk diri sendiri dan keluarganya, bukan?

Relasi terbina karena kedekatan hubungan. Namun, dekat bukan berarti tidak ada jarak. Tidak ada relasi yang mampu bertahan bila tidak menyisakan ruang kebebasan gerak bagi sesamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *