Renungan

Butakanlah Mataku!

Butakanlah Mataku!

 

Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

(Amsal 14:30)

 

Ada sebuah kisah tentang seorang pedagang yang berdoa kepada dewa yang disembahnya. Suatu kali dewa itu muncul dan berkata kepadanya, “Kamu boleh minta satu permintaan apa saja, aku akan memberikannya kepadamu.”

 

Tentu saja pedagang itu sangat gembira dan segera berpikir apa yang akan ia minta. Dewa itu kembali berkata, “Untuk apa pun yang kamu minta, kamu akan menerimanya. Tapi, pedagang sainganmu, yang di depan tokomu, akan menerima dua kali lipat.”

 

Lalu murunglah wajah pedagang itu. Ia berpikir, kalau meminta kekayaan, saingannya akan menjadi lebih kaya. Ia tentu saja tidak rela. Ia kemudian berkata, “Baiklah. Butakanlah salah satu mataku!”

 

Tentu ini hanya sebuah cerita. Namun, pesan dari cerita ini sangat jelas: iri hati membawa pada kehancuran.

 

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Amsal 14:30).

Amsal ini memberikan penegasan bahwa iri hati membusukkan tulang. Frasa “membusukkan tulang” mempunyai arti menghancurkan penopang kehidupan. Bukankah tulang yang menopang tubuh kita?

 

Sebaliknya, hati yang tenang atau hati yang bijaksana akan menyegarkan tubuh. Amsal ini menempatkan kebijaksanaan sebagai lawan dari iri hati. Hati yang tenang atau bijaksana bisa menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tidak merasa perlu iri hati dengan orang lain karena kelebihan orang lain bukanlah ancaman bagi dirinya. Kekurangan orang lain juga tidak akan kemudian menonjolkan kelebihannya.

 

Terimalah segenap diri kita, baik kekurangan dan kelebihan kita, dengan sukacita. Penerimaan diri ini akan membawa pada ketenangan hidup. Iri hati hanya akan menambah perkara.

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *