Renungan

Cabut Akar Kemalasan

Berkatalah si pemalas: “Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!” Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.

(Amsal 26:13-14)

Dahulu, ketika saya masih kanak-kanak, satu-satunya hiburan yang sesuai usia adalah menonton film Si Unyil yang ditayangkan di stasiun televisi satu-satunya pada waktu itu: TVRI. Salah satu tokoh dalam kisah Si Unyil adalah Pak Ogah. Dari namanya saja kita sudah dapat menduga karakternya. Pak Ogah suka ogah-ogahan alias malas. Tidak mau bekerja sebelum mendapatkan upah terlebih dahulu. Bila sudah ogah-ogahan, Pak Ogah selalu punya banyak alasan untuk menghindari pekerjaan.

“Berkatalah si pemalas: ‘Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!’ Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya” (Amsal 26:14).

Amsal ini menggambarkan pemalas sebagai orang yang gemar mencari-cari alasan untuk membenarkan kemalasannya. Mana mungkin ia tahu bahwa benar-benar ada singa di jalan atau di lorong bila ia berbaring di tempat tidurnya. Kemalasan tidak menghasilkan apa pun selain alasan.

Apakah kita mengenal seseorang yang dengan cepat kita beri label “malas”? Saya yakin kita dapat dengan cepat mengenali kemalasan yang hidup pada diri orang lain. Namun, sayangnya jangan-jangan kita lupa mengenali benih-benih kemalasan yang berdiam di dalam diri kita sendiri. Bila kita mulai mencari-cari alasan untuk tidak melangkah maju, hanya duduk, diam, dan kemudian tertidur, maka inilah tanda benih-benih kemalasan mulai bertumbuh.

Cabutlah akar kemalasan, semailah benih-benih kerajinan.

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *