Renungan

Dele dan Tempe

Dele dan Tempe

 

Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau!

Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu.

(Amsal 3:3)

 

Esuk dele, sore tempe. Demikianlah bunyi peribahasa dalam bahasa Jawa untuk menggambarkan orang yang kerap kali berubah dalam perkataan dan pendirian alias tidak konsisten. Sikap tidak konsisten tentu saja akan mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Orang lain sulit “memegang” perkataannya, dan cenderung akan menghindar apabila harus berurusan dengan orang yang tidak konsisten itu.

 

“Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu” (Amsal 3:3).

 

Amsal ini memberikan penegasan tentang pentingnya kasih (dalam bahasa inggris ditulis “kebaikan”) dan setia melekat di dalam diri manusia. Begitu pentingnya sehingga kasih dan setia itu diibaratkan sebagai kalung yang harus melekat pada leher. Ini adalah sebuah tindakan yang harus terlihat di mata orang lain, sama seperti kalung yang kita kenakan dan terlihat oleh orang lain.

 

Tentu saja tidak ada tindakan yang tidak keluar dari hati dan pikiran manusia. Itulah sebabnya penulis Amsal mengatakan bahwa kasih dan setia itu harus ditulis di dalam loh hati kita. Sebuah gambaran untuk menjelaskan karakter yang melekat erat di dalam hati alias yang sudah menjadi kebiasaan. Tidak ada kebiasaan yang tidak datang lewat praktik yang berulang-ulang.

 

Apa yang terjadi dengan orang-orang yang hidup di dalam kasih dan setia? Tentu saja orang-orang seperti ini akan dinanti-nantikan kehadirannya, karena siapa sih yang tidak merindukan kasih dan kesetiaan?

 

Sikap tidak konsisten membuat orang menjauhi kita. Sebaliknya, sikap konsisten dalam kasih dan kesetiaan akan menjadi magnet yang menarik orang untuk mendekati kita.

(Wahyu Pramudya)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *