Renungan Berjalan bersama Tuhan

Dengarkan Didikan Ayahmu

Dengarkan Didikan Ayahmu

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”

Amsal 1:8

Amsal menyatakan bahwa permulaan pengetahuan adalah hidup dengan takut akan Tuhan; kemudian dilanjutkan dengan peringatan kepada anak-anak untuk mendengarkan didikan seorang ayah dan ajaran seorang ibu. Ada yang membedakan pemahaman antara didikan dan ajaran. Didikan lebih mengarah pada pemberian prinsip, sedangkan ajaran lebih pada aplikasi, penerapan, latihan, dan pembentukan konkret dari didikan yang sudah disampaikan. Amsal menasihati anak-anak untuk mendengarkan didikan ayah dan tidak menyia-nyiakan ajaran ibu. Tentunya ini bukan terjadi di kelas sekolah, melainkan dalam kelas keluarga kita.

Rumah adalah tempat pertama dan terutama bagi anak-anak untuk dapat belajar kehidupan. Anak-anak mengenal bahwa hidup benar atau salah, baik atau jelek, bermoral atau amoral, berkomunikasi sopan, halus, atau kasar, menghargai orang lain atau meremehkan, dan sebagainya; semua itu dimulai dari pelajaran di rumah. Jadi, sadar atau tidak, anak-anak sudah mulai masuk “sekolah” ketika mereka membuka matanya, melangkahkan kaki turun dari tempat tidurnya; di situ mata pelajaran pertama sudah dimulai. Didikan dan ajaran dari seorang ayah dan ibu sudah mereka alami. Apa yang dilakukan oleh seorang ayah dan apa yang dikerjakan oleh seorang ibu, semua menjadi pelajaran sangat penting yang dilihat dan dialami anak-anak secara langsung.

Hal yang sangat penting di sini adalah Allah memberikan otoritas kepada ayah dan ibu sebagai “guru kehidupan” bagi anak-anak. Bukan guru yang memberikan mata pelajaran di sekolah atau universitas, melainkan guru yang memberikan value atau nilai-nilai kehidupan yang benar kepada anak-anak, sekaligus pembentukan karakter, moral, dan kerohanian anak-anak. Pertanyaan penting di zaman sekarang: masih adakah peran ayah dan ibu sebagai pendidik dan pengajar, ataukah sudah digantikan dengan babysitter atau pembantu rumah tangga? Ini bukan mau merendahkan atau meremehkan peran babysitter atau pembantu rumah tangga. Otoritas pendidikan bagi anak itu diberikan kepada orangtua yang dikaruniai anak oleh Tuhan. Anak itu dititipkan Tuhan kepada orangtua, bukan kepada yang lain. Jika ini tidak terjadi, peran orangtua sudah salah besar! Panggilan orangtua bukan hanya untuk bekerja dan mencukupi keluarganya, memberikan sandang, papan, dan pangan. Tidak hanya itu! Ada tanggung jawab yang lebih besar karena orangtua diberi otoritas oleh Allah untuk membesarkan anak-anak mereka secara utuh. Kebutuhan tubuh, jiwa, dan rohnya atau hidup rohaninya harus dicukupi dengan baik. Mintalah: Kembalikan ya Tuhan … peran kami sebagai orangtua yang mendidik dan mengajar anak-anak kami dalam Tuhan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, terima kasih Engkau mengingatkan aku kembali akan peran dan panggilan orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak-anak. Bukan diserahkan kepada babysitter atau pembantu rumah tangga, tetapi merupakan tanggung jawab yang besar bagiku yang sudah menjadi orangtua.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja untuk meluruskan dan mengingatkan peran orangtua dalam membesarkan anak-anak kami. Pimpinlah semua program gereja untuk terus menolong dan menuntun agar orangtua mampu menjadi pendidik dan pengajar bagi anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *