Renungan Berjalan bersama Tuhan

Di Gereja Juga Ada Disiplin

Di Gereja Juga Ada Disiplin

1 Korintus 14:26-40

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14:40). Perkataan ini diungkapkan oleh Paulus dalam surat penggembalaannya kepada jemaat di Korintus. Sebenarnya, apa yang ingin dikatakan Paulus dengan “berlangsung dengan sopan dan teratur”? Ternyata ia menemukan berbagai kegiatan pelayanan yang dilakukan dengan bebas, sekehendak hati. Setiap orang menganggap dirinya benar. Ini yang menjadi masalah besar. Setiap orang melakukan pelayanan dengan aturannya sendiri sehingga pada akhirnya akan menimbulkan konflik internal. Hal-hal yang baik jika tidak dijaga dengan peraturan, akan menjadi kacau. Seorang suami baru merasa dirinya bertanggung jawab bila ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sampai-sampai ia baru pulang tengah malam. Apakah ini baik? Mungkin baik menurutnya, tetapi tidak bagi keluarganya. Apa yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu dianggap baik bagi orang lain.

Itulah yang terjadi pada jemaat Korintus. Cara melayani seseorang yang dianggap baik oleh mereka ternyata dianggap tidak baik oleh orang lain. Kritik tidak mengubah mereka karena mereka justru mengeraskan hati dan tetap bertindak sesuka hatin. Terjadilah kekacauan dalam pelayanan. Paulus mengingatkan mereka bahwa gereja membutuhkan pelayanan yang berlangsung dengan sopan dan teratur. Apa yang dilakukan di dalam pelayanan tidak bisa dikerjakan sesuka hati. Harus ada aturan yang dibuat bersama untuk kebaikan bersama.

Selayaknya pelayanan dilakukan dengan sopan, yang berarti para pelayan saling menghormati. Budaya menghormati, terlebih terhadap orang yang lebih tua tetap menjadi bagian dalam pelayanan yang sangat penting. Dengan demikian, tidak ada orang yang akan mencari muka, mengutamakan kepentingan diri sendiri, dan menonjolkan diri. Kesopanan selalu menghargai orang lain terlebih dahulu, merendahkan diri di hadapan yang lain.

Paulus menegur jemaat Korintus agar mereka tidak hanya melayani dengan sopan, tetapi juga dengan teratur, yang artinya semua bentuk pelayanan harus ada aturan mainnya. Ia mengingatkan tentang karunia-karunia pelayanan, yang salah satunya adalah bahasa lidah. Dengan tegas ia mengatakan bahwa bahasa lidah tidak bisa dipakai di tengah-tengah persekutuan karena itu akan mengacaukan suasana. Ada aturan yang harus ditaati dengan baik jika jemaat merindukan persekutuan yang berjalan dengan teratur.

Dengan demikian, semua orang yang terlibat di dalam gereja harus melakukan pelayanan dengan sopan dan teratur, tidak menurut kehendaknya sendiri yang bisa berujung pada konflik. Jadi, perlu ada aturan yang ditaati bersama. Tidak ada kehidupan yang tertib tanpa ada aturan. Orang yang mau hidup teratur, ia harus menaati semua aturan dengan baik dan benar. Ketika kita menaati peraturan, niscaya kebebasan dalam kebenaran akan kita nikmati. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *