Renungan

Di Manakah Engkau?

Kejadian 3:1-24

Oleh: Pdt. Ruth Nuswantari 

 

“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.”

Ibrani 3:15

“Di manakah engkau?” adalah pertanyaan Allah kepada manusia pertama yang telah jatuh ke dalam dosa, bukan karena Dia tidak tahu dimana mereka berada, melainkan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengakui dengan jujur apa yang telah mereka lakukan dan mendapatkan pengampunan. Sayang sekali, mereka tidak menggunakan kesempatan ini dengan baik. Mereka justru sibuk untuk menutupi kesalahan mereka dengan saling mengkambing hitamkan orang lain, sehingga situasi menjadi semakin buruk.

“Di manakah engkau?”, menggema melalui debaran hati kita setelah melakukan dosa tertentu, teguran seorang sahabat, atau terbongkarnya dosa yang telah sekian lama  kita hidupi sehingga mau tidak mau kita harus menerima konsekwensinya. Pada saat seperti itu, kita diberi kesempatan untuk memilih: mengakuinya dengan jujur, meletakkannya di bawah salib Kristus, menerima pengampunan dan dipulihkan, atau justru sibuk melakukan segala usaha yang mungkin kita lakukan untuk menutupinya, dan semakin terpuruk.

Karena pergaulan yang buruk, seorang pemuda terjerumus ke dalam berbagai macam dosa: menggelapkan uang, memakai fasilitas kantor untuk bisnisnya sendiri, melakukan berbagai kebohongan untuk kepentingan pribadi, dll. Suatu hari kejahatannya terbongkar dan dia dipecat. Kalau saja dia menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan yang sedang bertanya kepadanya: “Di manakah engkau?”, dan menjawab dengan baik dan benar, maka saat itu justru menjadi titik balik yang mengubah hidupnya secara total. Sayang sekali dia justru sibuk menutupi dosanya dengan mencari kambing hitam, memutar balikkan fakta, memfitnah mantan bosnya, dll. Akibatnya hidupnya semakin terpuruk dan tidak pernah bisa bangkit sampai akhir hidupnya.

Betapapun kelamnya dosa kita, “Di manakah engkau?”, ditanyakan Tuhan tanpa henti sebagai wujud kasih-Nya yang tiada tara. Jawab apa yang akan kita berikan kepada-Nya?

Jawaban yang bijaksana menyelamatkan kita dari kehancuran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *