Renungan Berjalan bersama Tuhan

Dia di Tengah-tengah Kita

Dia di Tengah-tengah Kita

Keluaran 17:1-7

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Saat di tengah kerumunan orang banyak, Pak Suryo mempunyai alasan untuk marah ketika tiba-tiba seseorang berteriak, “Memangnya Pak Suryo ada di tengah kita? Mana buktinya? Yang benar saja!” Padahal Pak Suryo berada tepat di hadapannya. Selidik punya selidik, Pak Suryo adalah dermawan yang dengan setia memberikan santunan kepada masyarakat desa Kunirjati. Orang yang berteriak tadi termasuk di dalam daftar anggota masyarakat yang menerima dana bantuan, tetapi tampaknya ia sedang mengekspresikan ketidakpuasannya. Orang tersebut sebenarnya sering berjumpa dengan Pak Suryo. Sikap orang tersebut tentu bukan sikap yang terpuji, bahkan bisa menyakiti hati Pak Suryo.

Hal itu juga terjadi pada bangsa Israel ketika kebutuhan mereka tidak terpenuhi dan masa-masa sulit mereka alami. Apa yang dilakukan oleh bangsa Israel? Mereka sangat marah dan menghujat Allah. Bukannya mencari Tuhan dan meminta pertolongan dan perlindungan-Nya, mereka malah mengomel. Musa menamakan tempat itu Masa dan Meriba karena orang Israel telah bertengkar dan telah mencobai Tuhan dengan berkata, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (Keluaran 17:7). Tempat yang bernama Masa dan Meriba menjadi saksi nyata bahwa telah terjadi pertengkaran hebat. Bayangkan, bagaimana bisa sikap mereka begitu kasar? Bukankah mereka selama ini menikmati mukjizat yang sangat hebat, mengalami kecukupan makanan selama perjalanannya, tidak kepanasan ataupun kedinginan, segala kesulitan dan hambatan dilalui dengan baik. Mereka tahu benar tentang karya Allah yang agung dan mulia. Mereka bukan saja melihat tetapi juga merasakan dan mengalami berkat-berkat itu! Bagaimana mungkin mereka dapat berkata, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?”

Pengalaman bangsa Israel ini memberikan pelajaran yang sangat indah di dalam kehidupan kita. Allah tidak pernah meninggalkan kehidupan umat-Nya. Allah selalu hadir di tengah-tengah pergumulan hidup umat-Nya. Bahkan kehadiran-Nya benar-benar menyatakan pemeliharaan dengan semua berkat-Nya. Namun, umat-Nya kadang kala tidak merasakan Allah yang mahahadir itu. Mara dan Meriba bisa dialami oleh umat Tuhan ketika kita meragukan kehadiran Allah, ketika kita merasa sudah nyaman dan mapan sehingga tidak membutuhkan Tuhan. Saat diperhadapkan pada kondisi ini, ingatlah kembali akan kasih Tuhan yang begitu nyata dan penyertaan-Nya yang tak pernah berhenti. Marilah kita terus menggantungkan hidup kita hanya kepada Tuhan karena di luar Dia, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ampunilah aku ketika aku melupakan Tuhan dalam hidupku hanya karena kebutuhan diri yang tidak terpuaskan, harapan yang belum terkabul, persoalan dan pergumulan hidup yang silih berganti dan membuatku merasa sepertinya Tuhan melupakanku. Ampunilah aku jika aku sering menuntut Tuhan mencukupkan kebutuhan demi kepuasan diri sendiri. Tuhan, ampunilah aku jika aku melupakan Tuhan dalam hidupku karena aku merasa berkelimpahan dalam hidupku. Segala hal yang aku inginkan terasa sangat mudah kudapat dan kesuksesan selalu ada di tanganku. Hal itu menjadikan seakan-akan segala sesuatu kuperoleh berasal dari kemampuan dan kehebatan pengalamanku sendiri. Ampunilah aku, ya Tuhan.
  2. Tuhan, ampunilah kami sebagai umat-Mu ketika dengan mudahnya kami melupakan Tuhan dalam pelayanan dan penyusunan program pelayanan. Kadang kala kami tidak pernah bergumul dahulu untuk mencari kehendak-Mu dan berpikir bahwa pengalaman pelayanan dan kepandaian kami lebih berperan daripada berdiam diri, merenung, dan berdoa di hadapan-Mu. Ampunilah kami ya Tuhan jikalau kami lupa bahwa Engkau adalah Kepala Gereja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *