Renungan

Diam Seribu Bahasa

–Pdt. Ruth Retno Nuswantari–  

2 Samuel 13:20-32

Dan Absalom tidak berkata-kata dengan Amnon, baik tentang yang jahat maupun tentang yang baik, tetapi Absalom membenci Amnon, sebab ia telah memperkosa Tamar, adiknya.”

Ada pepatah mengatakan diam itu emas, tetapi ternyata tidak selamanya demikian. Diam itu emas bila diterapkan pada situasi yang tepat, tetapi diam ketika seharusnya bicara, bisa menjadi bencana.

Bagian Alkitab ini menceritakan kisah yang sangat tragis yang terjadi dalam keluarga Daud. Amnon memperkosa Tamar, adik tirinya dan sesudah memperkosa menjadi benci dan mengusir Tamar keluar dari rumahnya. Bisa dimengerti jika Absalom, kakak Tamar marah besar dan sangat benci kepada Amnon. Hal ini diperparah dengan sikap diam Daud, sebagai ayah yang seharusnya berbuat sesuatu terhadap Amnon. Absalom juga sama. Dia bukannya mendatangi Amnon dan menyelesaikan kemarahannya, melainkan mendiamkan Amnon, sama sekali tidak mau berbicara dengannya dan menyimpan kemarahan itu dalam hatinya sehingga menjadi semacam bom waktu yang pada saatnya meledak menjadi sebuah pembunuhan yang sadis (2 Samuel 13:27-28).

Kita mungkin tidak mengalami se-tragis yang terjadi dalam keluarga Daud, tetapi tetap saja kita akan kehilangan banyak hal yang indah jika kita bersikap diam seribu bahasa ketika seharusnya kita bicara.

Ada sepasang suami-istri yang sedang merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka. Ketika tiba saatnya makan, sang suami dengan penuh kasih sayang mengambilkan makanan untuk istrinya. Namun, apa yang terjadi? Si istri tiba-tiba menangis dan dengan marah berteriak kepada suaminya: “Kamu benar-benar keterlaluan! Sejak menikah sampai sekarang, kalau makan ikan, selalu kepalanya kamu berikan kepadaku! Tidak bisakah pada hari yang istimewa ini kamu berikan yang lebih baik dari pada kepala ikan?” Betapa terkejutnya sang suami. Selama itu, karena setiap kali makan ikan istrinya selalu mengambil kepalanya, dia mengira bahwa kepala ikan adalah kesukaan istrinya. Maka setiap kali makan ikan, dia berikan kepala ikan itu kepada istrinya, walaupun sebenarnya kepala ikan adalah makanan kesukaannya. Dia tidak tahu kalau sebenarnya istrinya berbuat demikian maksudnya adalah berkorban supaya yang lain bisa mendapat makanan yang baik. Seandainya sejak awal suami istri itu mengomunikasikan isi hati mereka masing-masing, tentu hal tersebut tidak terjadi, bukan?

Kita semua tentu ingin semua relasi kita harmonis, karena  itu, marilah kita minta hikmat Tuhan agar kita dapat melakukan peran kita dengan baik.

Orang bijak tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara serta melakukan perannya dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *