Renungan Berjalan bersama Tuhan

Didikan Ayah

Didikan Ayah

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan” (Amsal 13:1).

Kehadiran anak di tengah keluarga pasti sangat menyenangkan, bahkan di tunggu-tunggu oleh pasangan yang baru menikah. Anak yang diberikan Tuhan kepada kita sangat unik dan setiap anak tidak akan sama dengan anak yang lain, sekalipun anak itu kembar. Setiap anak mempunyai sifat, karakter, kemauan, sikap, dan perilaku yang berbeda. Tidak ada satu pun yang sama. Belum lagi anak yang mempunyai pembawaan pendiam, periang, terbuka, atau tertutup. Ada anak yang mudah diatur, tetapi ada juga yang semaunya sendiri, tidak bisa diberitahu, dan sebagainya.

Amsal memberi nasihat kepada semua anak. Apa yang dikatakan Amsal? “Anak yang bijak, mendengarkan didikan ayahnya”. Anak yang bijak adalah anak yang mau diam sejenak, duduk tenang beberapa menit, membuka hati dan pikirannya untuk mendengarkan pendapat orang lain, tidak menonjolkan dirinya, tidak sombong atau merasa mampu, serta mempunyai sikap mau belajar dari orang lain. Takut akan Tuhan dinyatakan melalui hidupnya yang setia membaca firman Tuhan, serta rajin berdoa dan bersaksi. Itulah anak bijak. Anak yang mendengarkan didikan ayahnya akan menjadi anak baik.

Tidak seorang ayah pun yang mendidik anaknya menuju kehidupan yang tidak benar. Sekalipun ada orangtua yang tidak benar, yang hidup dalam “kegelapan”, tidak ada seorang ayah yang berharap anaknya seperti ayahnya yang hidup dalam kegelapan. Seorang ayah rindu semua anaknya dapat hidup dalam kebenaran. Apalagi ayah yang hidupnya benar dan takut akan Tuhan, pasti sangat mengharapkan semua anaknya hidup dalam kebenaran Tuhan. Pasti ia akan mendidik semua anaknya untuk takut akan Tuhan. Oleh karena itu, anak bijak adalah anak yang mau mendengarkan didikan ayahnya. Anak bijak akan mempertimbangkan apa yang ia lakukan dengan nasihat ayahnya. Ia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mempertimbangkan mana yang baik dan benar untuk dilakukan.

Berbeda dengan seorang pencemooh, yang pekerjaannya selalu merusak orang lain, gosip sana gosip sini, suka sekali membicarakan orang lain dan menghasut. Orang yang demikian menurut Amsal tidak akan mendengarkan hardikan. Yang dimaksudkan hardikan adalah kata-kata keras dan lantang yang diucapkan untuk memberikan peringatan sangat keras! Itu dilakukan karena orang tersebut sudah melakukan tindakan yang memalukan, fatal, dan merugikan orang lain. Bayangkan, mendapat hardikan pun sudah tidak didengarkan dengan baik. Itulah pencemooh. Anak yang bijak akan diberkati Tuhan. Amin.

 

Pokok Doa:

  • Tuhan, tolonglah aku untuk terus mau mendengarkan didikan ayah yang tidak pernah berhenti. Aku tahu bahwa didikan ayah terus mengingatkan agar aku hidup takut akan Tuhan dan menjalaninya hingga menjadi teladan dan contoh hidup bagi orang lain. Tuhan, tolonglah aku untuk mau mendengarkan didikan ayahku.
  • Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja agar dapat mempersiapkan diri dengan baik, khususnya dalam bidang pendidikan. Pimpinlah Komisi Bapak dan Komunitas Bapak agar dapat terus belajar mendidik anak-anaknya dengan benar dan takut akan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *