Renungan Berjalan bersama Tuhan

Dimulailah Karya yang Besar

Dimulailah Karya yang Besar

Kejadian 37:12-36

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Karya yang besar acapkali tidak dimulai dengan cara yang mulus dan mudah, justru pada umumnya dimulai dengan kerja keras dan peluh. Ada juga yang diawali dengan pergumulan, air mata, dan penderitaan. Kadang kala pengalaman demikian bisa membuat orang frustrasi, kecewa, dan marah kepada Tuhan. Ketika marah, orang itu akan mulai meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah dan disiplin rohani, lalu menjalani hidupnya dengan kekuatan sendiri.

Perjalanan hidup Yusuf mungkin tak semulus yang diharapkannya. Di tengah pergumulan hidup, Tuhan berbicara kepada Yusuf secara pribadi untuk menyatakan rencana dan kehendak-Nya melalui mimpi. Oleh sebab itu, Yusuf dijuluki “tukang mimpi” oleh saudara-saudaranya yang tidak suka kepadanya. Ketika beranjak dewasa, perasaan tersebut bukannya mereda, malah semakin memuncak menjadi kebencian. Tidak ada yang dapat mendamaikan mereka, bahkan kebencian itu melahirkan upaya pembunuhan. Ketika ada kesempatan, mereka sepakat hendak membunuh Yusuf.

Ruben, anak  tertua, dan Yehuda menjadi “penyelamat” hidup Yusuf dari ancaman pembunuhan. Kata Yehuda kepada saudara-saudaranya, “Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita” (Kejadian 37:26-27). Yusuf kemudian dibawa pergi dan dijual sebagai budak, jauh dari keluarga yang dicintainya menuju tanah yang tak dikenalnya. Tiada sanak saudara yang ia kenal. Ia hidup sendiri. Meski pergumulan berat ia hadapi, hal itu tidak membuatnya undur diri dari hadapan Allah. Justru, ia menjalani kehidupannya dengan penuh kepercayaan bersama Allah. Setiap pekerjaan, serendah apa pun, ia lakukan dengan penuh tanggung jawab karena ia percaya ada rencana indah di balik semua itu. Meneladani sikap Yusuf, marilah kita juga melihat bahwa tangan Tuhan akan selalu menyertai hidup kita. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku bersabar ketika pengalaman pahit dan sulit menyapa, ketika penderitaan dan beban berat harus dihadapi, dan ketika tiada seorang pun mau peduli. Mampukan aku untuk tetap berkarya dengan baik dan penuh tanggung jawab dalam situasi dan kondisi seberat apa pun. Berikanlah kekuatan dan kesabaran karena aku yakin semua itu akan Tuhan pakai menjadi alat untuk memberkati dan memimpin menuju keberhasilan hidup yang luar biasa.
  2. Tuhan, pimpinlah kami untuk tetap setia sekalipun dalam pelayanan kami di tengah dunia ini kami harus berhadapan dengan masalah-masalah yang sulit atau bahkan ancaman. Kiranya Engkau tetap memimpin agar di tengah situasi tersebut kami tetap mengerjakan pelayanan dengan penuh kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *