Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Perjanjian Lama

Doa dan Puasa : Apa yang Diajarkan Alkitab?

Dari beberapa ayat ini jelas Doa dan Puasa merupakan bagian dari kehidupan iman kita. Doa dan puasa ternyata merupakan cara yang dikehendaki Tuhan untuk datang kepada-Nya. Ketika ada beban yang berat, pergumulan-pergumulan dan masalah-masalah baik secara pribadi maupun menyangkut seluruh kehidupan umat Tuhan – kita dapat datang kepada Tuhan dengan Doa dan Puasa. Doa dan Puasa merupakan bagian yang amat penting dalam kehidupan kita iman kita!

Namun yang penting…. Bagaimana sikap kita dalam melakukan Doa dan Puasa? Apakah Doa dan Puasa itu merupakan “Peraturan iman yang legalistik”? Di mana umat Tuhan harus melakukan Doa dan Puasa demi mentaati “Hukum Agama” yang ditetapkan? Tidak!!! Doa dan Puasa dilakukan bukan sekedar untuk memenuhi hukum agama atau peraturan agama; tetapi yang lebih penting bukan mentaati pelaksanaan Doa dan Puasa secara hukum, melainkan motivasi, kehendak dan tujuan yang jelas di mana Doa dan Puasa itu dilakukan!!!

Yesaya mengingatkan umat Tuhan yang sedang melakukan puasa dengan cara puasa yang tidak benar, dia mengatakan “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga? Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu dan kamu mendesak-desak buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena.

Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Ku-kehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain kabung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kau sebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? Bukan!!!

Berpuasa yang Ku-kehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu (Yes.58:3-8).

Dari kebenaran Firman Tuhan tersebut dapat kita tarik beberapa prinsip yang penting di dalam melakukan Doa dan Puasa:

 

1. Doa dan Puasa bukan suatu kegiatan yang memenuhi “Hukum Agama” sehingga kita jatuh pada pola yang legalistik.

Dalam arti kalau dipahami memenuhi hukum agama, maka ketika saya sudah melakukan “Doa dan Puasa” saya merasa Doa dan Puasa saya sudah berkenan dihadapan Tuhan, bahkan saya merasa segala dosa-dosa saya sudah diampuni. Sikap ini sangat berbahaya, karena Doa dan Puasa tidak pernah dilakukan dengan “Koreksi Diri” di hadapan Tuhan. Tidak heran orang yang melakukan Doa dan Puasa demi memenuhi tuntutan hukum agama, mereka masih melakukan dosa-dosa dalam dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *