Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Perjanjian Lama

Doa dan Puasa : Apa yang Diajarkan Alkitab?

Mereka masih membenci orang lain, mereka masih melakukan korupsi, kolusi dan penindasan-penindasan kepada orang lain, mereka tidak peduli akan penderitaan orang lain. Mereka dapat melakukan Doa dan Puasa dengan kusuknya, tetapi berbarengan dengan dosa yang masih menjadi bagian dalam hidupnya. Itulah yang ditegur oleh Yesaya kepada umat-Nya Israel. Tidak heran kalau Doa dan Puasa dilakukan seperti itu, maka jelas itu adalah Doa dan Puasa yang munafik. Dan sikap ini ditegur dengan keras oleh Tuhan Yesus (Mat.6:16-18).

2. Doa dan Puasa dilakukan karena adanya sikap yang penuh dengan keprihatinan.

Situasi dan kondisi yang begitu memprihatikan, itu yang membuat kita datang kepada Tuhan untuk berdoa dan berpuasa. Keprihatinan situasi dapat bermacam-macam bentuknya, baik itu secara pribadi, dalam kehidupan keluarga kita maupun menyangkut seluruh kehidupan umat Tuhan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; di mana keadilan, kebenaran, kekudusan Tuhan sudah diinjak-injak dan tidak dipedulikan lagi. Keprihatinan itu yang mendorong kita untuk “Berdoa dan Berpuasa”, menyerahkan semuanya itu di dalam kehendak Tuhan yang penuh dengan Keadilan, kebenaran dan Kekudusan; menyerahkan situasi yang demikian kepada Tuhan yang penuh dengan Kemahakuasaan-Nya; menyerahkan dengan sungguh-sungguh atas keprihatinan kita kepada-Nya.

3. Doa dan Puasa selalu disertai dengan pertobatan, perubahan hati dan kelakuan hidup yang real dihadapan Tuhan dan sesama.

Doa dan Puasa akan mubasir dilakukan kalau hati, pikiran dan kelakuan kita masih kotor dihadapan Tuhan. Oleh karena itu Doa dan Puasa sangat erat hubungannya dengan pertobatan; baik pertobatan pribadi, keluarga, gereja dan umat Tuhan secara menyeluruh.

Justru inilah yang sulit dilakukan! Kita bisa berdoa dan berpuasa secara jasmaniah atau secara fisik, di mana kita menahan untuk tidak makan dan tidak minum; tetapi betapa sulitnya kita menahan pengaruh dan kuasa dosa yang ada di dalam hati, pikiran dan kehendak kita. Betapa sulitnya hati, pikiran dan kelakuan kita bertobat di hadapan Tuhan dan sesama kita. Tidak ada artinya kita berdoa dan berpuasa, tetapi kita tidak pernah menaklukkan hati, pikiran dan kehendak/kelakuan kita di bawah kuasa Tuhan Yesus Kristus.

Doa dan Puasa yang benar harus dibarengi dengan penyerahan seluruh hati, pikiran dan kehendak kita kepada Krsitus. Dengan demikian maka seluruh kepribadian kita benar-benar mempunyai perubahan yang real di dalam menyaksikan iman kita.

4. Doa dan Puasa bukan sekedar wujud dari penahanan diri secara fisik atau jasmaniah saja.

Ketika kita melakukan doa dan puasa, itu bukan dalam pengertian kalau saya sudah mampu bertahan untuk tidak makan dan minum dalam waktu-waktu tertentu lalu saya dapat dikatakan sudah melakukan Doa dan puasa. Tidak!!! Alkitab tidak pernah menunjukkan penampilan secara lahiriah bagi orang-orang yang melakukan doa dan puasa. Tuhan Yesus menegur dengan keras bagi mereka yang memamerkan dirinya melakukan doa dan puasa. Bahkan Tuhan Yesus memerintahkan kalau orang berpuasa hendaklah engkau meminyaki rambutmu, mencuci mukamu dan jangan mukamu muram (Mat. 6:16-18). Jadi Doa dan Puasa itu bukan merupakan keberhasilan menahan diri untuk tidak makan dan minum, melainkan mengapa saya sampai bertekad tidak makan dan minum di hadapan Tuhan, karena ada sesuatu yang saya ingin bawakan kepada Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *