Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Perjanjian Lama

Doa dan Puasa : Apa yang Diajarkan Alkitab?

Dari kebenaran Firman Tuhan tersebut dapat kita tarik beberapa prinsip yang penting di dalam melakukan Doa dan Puasa:

 

1. Doa dan Puasa bukan suatu kegiatan yang memenuhi “Hukum Agama” sehingga kita jatuh pada pola yang legalistik.

Dalam arti kalau dipahami memenuhi hukum agama, maka ketika saya sudah melakukan “Doa dan Puasa” saya merasa Doa dan Puasa saya sudah berkenan dihadapan Tuhan, bahkan saya merasa segala dosa-dosa saya sudah diampuni. Sikap ini sangat berbahaya, karena Doa dan Puasa tidak pernah dilakukan dengan “Koreksi Diri” di hadapan Tuhan. Tidak heran orang yang melakukan Doa dan Puasa demi memenuhi tuntutan hukum agama, mereka masih melakukan dosa-dosa dalam dirinya.

Mereka masih membenci orang lain, mereka masih melakukan korupsi, kolusi dan penindasan-penindasan kepada orang lain, mereka tidak peduli akan penderitaan orang lain. Mereka dapat melakukan Doa dan Puasa dengan kusuknya, tetapi berbarengan dengan dosa yang masih menjadi bagian dalam hidupnya. Itulah yang ditegur oleh Yesaya kepada umat-Nya Israel. Tidak heran kalau Doa dan Puasa dilakukan seperti itu, maka jelas itu adalah Doa dan Puasa yang munafik. Dan sikap ini ditegur dengan keras oleh Tuhan Yesus (Mat.6:16-18).

2. Doa dan Puasa dilakukan karena adanya sikap yang penuh dengan keprihatinan.

Situasi dan kondisi yang begitu memprihatikan, itu yang membuat kita datang kepada Tuhan untuk berdoa dan berpuasa. Keprihatinan situasi dapat bermacam-macam bentuknya, baik itu secara pribadi, dalam kehidupan keluarga kita maupun menyangkut seluruh kehidupan umat Tuhan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; di mana keadilan, kebenaran, kekudusan Tuhan sudah diinjak-injak dan tidak dipedulikan lagi. Keprihatinan itu yang mendorong kita untuk “Berdoa dan Berpuasa”, menyerahkan semuanya itu di dalam kehendak Tuhan yang penuh dengan Keadilan, kebenaran dan Kekudusan; menyerahkan situasi yang demikian kepada Tuhan yang penuh dengan Kemahakuasaan-Nya; menyerahkan dengan sungguh-sungguh atas keprihatinan kita kepada-Nya.

3. Doa dan Puasa selalu disertai dengan pertobatan, perubahan hati dan kelakuan hidup yang real dihadapan Tuhan dan sesama.

Doa dan Puasa akan mubasir dilakukan kalau hati, pikiran dan kelakuan kita masih kotor dihadapan Tuhan. Oleh karena itu Doa dan Puasa sangat erat hubungannya dengan pertobatan; baik pertobatan pribadi, keluarga, gereja dan umat Tuhan secara menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *