Renungan, Ringkasan Khotbah

Doa yang Berkuasa

Oleh: Ps. Agus Lianto

Matius 6:5-10

Pada saat Yesus mengajar tentang doa, Ia memberikan beberapa petunjuk bagaimana berdoa dengan benar dan penuh kuasa. Hal terpenting yang diajarkan Yesus tentang doa adalah bagaimana memiliki sikap hati yang benar terhadap Allah, karena Ia mendengar hati kita lebih dari perkataan yang kita ucapkan dalam doa. Melalui ayat bacaan di atas kita dapat melihat sebuah rangkaian pengajaran tentang sikap hati yang benar dalam berdoa, dan bagaimana sikap tersebut diwujudkan dalam pokok-pokok doa kita.

1.      Berdoa dalam Kerahasiaan

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang… Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi…” (Mat 6:5-6)

Salah satu jebakan yang paling berbahaya dalam kekristenan adalah melakukan hal-hal rohani ‘untuk dilihat orang’, atau untuk memperoleh keuntungan duniawi tertentu. Berdoa dalam kerahasiaan menunjuk pada gaya hidup dan disiplin rohani pribadi yang konsisten yang ditunjang oleh sikap rendah hati, tidak mencari keuntungan yang bersifat duniawi. Yesus sendiri memiliki gaya hidup doa yang seperti ini (Mark 1:35, Mark 6:46, Mat 14:23, Luk 6:12). Doa yang tertuju pada keuntungan duniawi akan menjadi doa yang munafik dan tidak bertahan lama.

2.      Berdoa dalam Pengenalan akan Allah

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (Mat 6:7-8)

Kita berdoa karena kita mengenal siapa yang mendengar doa kita. Doa yang ‘bertele-tele’ menunjuk pada ritual-ritual agamawi untuk membuat sebuah doa dijawab, tanpa ada usaha untuk mengenal Pribadi yang menerima doa tersebut. Berdoa tanpa bermaksud mengenal dan mengasihi pribadi Allah justru akan menyakiti hati-Nya. Keyakinan dalam berdoa muncul karena kita mengenal dan dikenal oleh Allah.

3.      Berdoa kepada Bapa di Sorga yang Maha Kudus

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,…” (Mat 6:9)

Kita berdoa bukan kepada satu sosok yang jauh dan tidak dikenal, tapi kita berdoa kepada Bapa yang sangat mengenal dan mengasihi anak-anak-Nya. Bapa di sorga akan selalu melakukan yang terbaik bagi anak-anaknya (Luk 11:11-13), itulah yang menjadi dasar keyakinan setiap doa yang kita naikkan. Kita juga perlu menyadari bahwa Bapa yang kita sembah adalah Allah yang MahaKudus, sehingga kekudusan & kemuliaan Allah selalu menjadi pusat dan alasan utama dari semua permintaan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *