Renungan Berjalan bersama Tuhan

Doaku kepada Tuhan

Doaku kepada Tuhan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 6:5-15

Reinhold Niebuhr (1892-1971), seorang teolog German, pernah menaikkan doa demikian:

God, grant me the serenity to accep tthe things I cannot change,courage to change the things I can change, and wisdom to know the difference.

“Tuhan, berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, keteguhan hati untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, dan hikmat untuk mengetahui perbedaannya.”

Doa yang benar-benar mengungkapkan realitas hidup, suatu kenyataan menghadapi diri sendiri. Ketika ia berkata kepada Tuhan, “Berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah,” sesungguhnya ia ingin menyatakan betapa ia sadar siapa dirinya yang penuh dengan kelemahan. Banyak orang mempunyai kelemahan dalam dirinya, tetapi hanya sedikit orang yang menyadari kelemahannya itu. Niebuhr sadar siapa dirinya yang penuh dengan kelemahan, bahkan kelemahan-kelemahan yang menurutnya tidak dapat ia ubah, entah itu kekerasan hatinya sebagai orang yang keras kepala atau sikap tidak mau mengalah. Ia sadar dan merasa benar-benar tidak mampu mengubah karakternya yang tidak baik! Maka dari itu, doanya selanjutnya adalah “Tuhan, berilah aku keteguhan hati untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah”. Apa maksudnya? Bila tadi ia memiliki hal-hal yang besar dalam karakternya yang telah membuat hatinya beku, kaku sehingga ia merasa tidak sanggup mengubahnya, maka sekarang ia ingin memulai dari hal-hal yang kecil, yaitu apa yang bisa diubah lebih dulu. Ia memohon kekuatan dari Tuhan agar mampu mengubah hal-hal yang dapat ia ubah seperti kesabaran, kelemahlembutan, kasih, perhatian kepada orang lain, dan sebagainya. Banyak orang yang tahu ada beberapa hal dalam hidupnya yang dapat berubah atau yang bisa diubah, tetapi ia sama sekali tidak mau atau tidak mempunyai keberanian untuk berubah. Tidak demikian dengan Niebuhr! Jika yang hal-hal yang kecil sudah mulai belajar untuk diubah, maka yang hal-hal yang besar yang dulu dikatakan tidak dapat diubah, pasti pada akhirnya dapat diubah! Niebuhr melanjutkan doanya, “Tuhan, berilah aku hikmat untuk mengetahui perbadaannya.” Artinya, ia memohon hikmat dari Tuhan agar dimampukan mengetahui kelemahan-kelemahan dirinya yang tidak baik, yang dapat menimbulkan konflik, kesalahpahaman, atau hubungan yang tidak baik dengan siapa pun. Bila ia sudah mengetahui perbedaannya, ia akan mampu mengatasi hal-hal yang tidak baik itu untuk diubahnya menjadi hal-hal yang baik. Banyak orang tahu hal-hal yang tidak baik di dalam dirinya, tetapi sedikit orang yang mengetahui perbedaanya, yaitu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Bandingkan dengan Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13), yang berbunyi, “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Marilah kita mempunyai kehidupan doa yang terus mengarah pada perubahan baik dalam diri kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *