Renungan Berjalan bersama Tuhan

Gereja yang Sehat

Gereja yang Sehat

Kisah Para Rasul 2:41-47

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Ada gereja sehat dan ada gereja sakit; ada gereja gemuk dan ada gereja kurus; ada gereja basah dan ada gereja kering; ada gereja besar dan ada gereja kecil, dan sebagainya,” kata seorang mahasiswa teologi yang akan masuk praktik kerja selama satu tahun. Ia mengalami kebingungan karena sebutan-sebutan tadi tidak pernah dibahas di dalam mata kuliah Eklesiologi atau Doktrin Gereja. Setelah bertanya ke sana kemari, barulah ia mengerti bahwa pada intinya, kalimat tadi ingin menyatakan tentang gereja yang bertumbuh dan gereja yang tidak bertumbuh. Jika itu yang menjadi masalah, jelas dibutuhkan pembahasan selama berjam-jam dalam mata kuliah bergereja.

Ada beberapa ciri-ciri gereja yang bertumbuh. Pertama, jumlah anggota jemaat yang mandiri, artinya gereja itu mempunyai keanggotaan jemaat yang tetap dan terus berkembang. Secara kuantitas atau jumlah menampakkan perkembangan. Kedua, bukan hanya secara kuantitas, melainkan juga secara kualitas, yang artinya setiap anggota jemaat bertumbuh semakin dewasa menyerupai Kristus. Mereka akan terus-menerus mempunyai kerinduan untuk bersaat teduh, berdoa, dan menghadirkan Allah dalam urusan-urusan pribadi mereka. Keluarga mereka akan menjadi keluarga yang semuanya mencintai Tuhan. Di tengah dunia kerja, mereka akan menjadi kesaksian yang baik, menjadi orang yang disukai oleh rekan-rekan sekerja mereka. Selain itu, gereja mampu mencukupi dirinya sendiri. Semua program pelayanan dapat ditunjang dengan baik, pelayanan-pelayanan ke dalam maupun ke luar dapat berkembang dengan baik. Mereka juga mempunyai kehidupan dan relasi sosial yang baik di masyarakat yang dapat menjadi berkat bagi sekitarnya. Pelayanan menjadi bagian dalam hidup bergereja yang di dalamnya seluruh anggota jemaat dapat terlibat aktif saling melayani.

Salah satu wujud pertumbuhan gereja yang baik tampak dari kehidupan persembahan jemaat. Persembahan bukan dilihat dari segi jumlah saja, melainkan lebih dalam lagi, yakni kesadaran setiap anggota jemaat Tuhan akan anugerah dan kasih Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Berkat anugerah-Nya senantiasa mencukupi, bahkan memberkati dengan limpahnya. Dengan demikian, persembahan jemaat diberikan sebagai rasa ucapan syukur atas anugerah Tuhan Yesus yang sangat besar dalam hidup umat-Nya. Persembahan jemaat tak lagi menjadi suatu rutinitas atau berdasarkan kebiasaan, tetapi dilakukan karena adanya kontak batin antara umat-Nya dengan Tuhan Yesus. Hal itu berbicara tentang antara kemampuan jemaat dan anugerah Tuhan Yesus. Antara apa yang jemaat punyai dan Tuhan Yesus yang telah memberikan kepercayaan-Nya kepada jemaat memelihara anugerah-Nya. Itulah persembahan jemaat yang benar. Kehidupan jemaat yang saling menolong dan menguatkan. Sebagai contoh adalah kehidupan jemaat mula-mula. Lukas mencatat, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:44-47).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *