Khotbah Perjanjian Baru

God Cooperate with Created Things in Every Action

Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Kisah Para Rasul 4:23-31

Teks kita hari ini menceritakan respon para rasul dan jemaat mula-mula terhadap ancaman dari para pemimpin Yahudi. Petrus dan Yohanes sempat ditangkap dan diperingatkan dengan keras agar tidak memberitakan tentang kebangkitan Yesus. Setelah keduanya dilepaskan karena para pemimpin Yahudi takut terjadi kerusuhan sehubungan dengan banyaknya orang yang takjub pada mujizat kesembuhan yang dilakukan Allah melalui Petrus dan Yohanes, keduanya segera menemui teman-teman mereka (ayat 23). Dalam teks Yunani kata “teman-teman” secara hurufiah berarti “milik mereka sendiri”. Kata yang sama muncul di 24:23 dan merujuk pada sahabat-sahabat Paulus.

Doa Gereja Mula-Mula

Respon “berdoa” yang dilakukan gereja mula-mula sekilas terkesan klise dan sederhana. Bagaimanapun, ada beberapa poin penting sehubungan dengan cara mereka berdoa. Yang terutama, doa mereka merupakan respon spontan terhadap persoalan yang mereka hadapi. Begitu mereka mendengar apa yang sedang dihadapi Petrus dan Yohanes, mereka langsung meresponi itu dengan doa. Tidak ada waktu bagi mereka untuk menyalahkan para pemimpin atau memikirkan sejumlah solusi yang mereka pikirkan sendiri. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa kita harus berserah total tanpa berpikir. Poin yang hendak ditekankan adalah spontanitas mereka dalam berdoa. Apakah kita juga secara spontan meresponi semua persoalan kita dengan doa? Ataukah kita justru cenderung mengkuatirkan banyak hal terlebih dahulu, baru setelah itu kita berdoa ketika tidak ada jalan keluar?

Doa gereja mula-mula juga dilandasi dengan kesehatian. Terjemahan LAI:TB “bersama-sama” di ayat 24a kurang begitu jelas, karena kata “bersama-sama” dapat merujuk pada tempat atau waktu yang sama. Kata keterangan homothumadon sebenarnya lebih tepat diterjemahkan “sehati” (1:14; 2:46; 5:12). Jadi, kesatuan dalam doa mereka bukan terletak pada tempat atau waktu, pada hati. Aspek inilah yang seringkali kurang diperhatikan dalam berbagai persekutuan doa modern. Jemaat hanya berdoa di tempat dan waktu yang sama, namun tidak ada kesatuan di antara mereka.

Hal lain yang menarik dari doa gereja mula-mula adalah keselarasan antara doa dan situasi yang mereka hadapi. Walaupun Tuhan Yesus pernah mengajarkan Doa Bapa Kami kepada para rasul, tetapi bukan doa itu yang dipanjatkan oleh gereja mula-mula saat menghadapi tantangan. Mereka juga tidak menyapa Allah dengan sebutan “Bapa”. Karena mereka menghadapi ancaman dari para pemimpin Yahudi yang berkuasa atas mereka, mereka datang kepada Allah sebagai Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu, termasuk atas para pemimpin tersebut.

Poin terakhir yang kita dapat petik dari doa gereja mula-mula adalah pemahaman mereka yang luar biasa terhadap Allah. Doa mereka dicatat sepanjang 7 ayat: ayat 23-28 berisi pengakuan terhadap Allah, ayat 29-30 berisi permohonan. Dengan demikian, apa yang mereka akui di depan Allah jauh lebih banyak daripada yang mereka minta dari Dia. Mereka juga menempatkan pengakuan di depan permohonan (seperti Doa Bapa Kami di Matius 6:9-13). Konsep teologis yang mendalam ini sangat menarik jika dilihat dari sisi gereja mula-mula baru saja mengalami hal-hal spektakuler dari Roh Kudus (Kis 2). Tidak seperti gereja-gereja modern yang mengakui dipenuhi Roh Kudus tetapi membenci doktrin, gereja mula-mula tidak mengabaikan kebenaran teologis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *