Khotbah Perjanjian Baru

God’s Promise for Justice

God’s Promise for Justice

Lukas 18:1-8

Oleh: Ruth Monika

Pendahuluan

Saudara-saudara, apa yang Saudara pikirkan ketika Saudara melihat tas yang biasa Saudara bawa dipenuhi oleh uang 10 juta milik teman Saudara,  dan memang saat itu teman Saudara  sedang mencari uangnya yang hilang dengan jumlah yang sama?  Ditambah lagi orang-orang di sekeliling Saudara  sedang menuduh Saudara  sebagai pencuri uang itu.  Saudara tidak   tahu bagaimana uang itu bisa berada di tas Saudara. Ketika Saudara  ingin mengatakan sejujurnya bahwa Saudara  tidak mencurinya, kerongkonganterasa tersumbat.  Mau mengatakan bahwa, “Bukan aku pelakunya!”  Tapi kok uangnya ada di tas Saudara.  Mau pasrah tanpa pembelaan, tapi taruhannya masuk ke dalam penjara.  Saudara-saudara, mungkin pada saat itu juga Saudara,  berpikir bahwa, “Ini tidak adil!  Saya harus bertanggungjawab atas sesuatu yangsaya tidak melakukannya.”  Tapi memang kenyataannya tidak ada bukti yang sanggup menolong Saudara,  yang menyatakan bahwa Saudara  tidak bersalah.  Kalau sudah begini, apa yang akan Saudara  lakukan?  Saudara,  ada tiga pilihan yang mungkin Saudara bisa lakukan. Pertama, Saudara  berusaha membela diri dengan sekuat tenaga dengan menyogok hakimnya untuk menyelesaikan masalah ini?  Kedua, pasrah menerima nasib.  Yah masuk penjara ya udahlah…  Toh, saya juga nggak punya uang buat nyogokhakimnya, ntar juga keluar.  Atau ketiga, yang tampaknya sepele dan dianggap sepi oleh kebanyakan orang, yaitu berdoa memohon keadilan itu ditegakkan. Alternatif terakhir ini tampaknya sangat naif, bukan?

 

Saudara, diperlakukan tidak adil itu memang sangatlah tidak menyenangkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menjumpai kasus-kasus ketidakadilan yang terjadi.  Bahkan bisa saja akan menimpa saya dan Saudara.  Dalam posisi kita yang sangat terhimpit ini, pasti kebanyakan dari kita akan memilih pilihan yang pertama atau kedua.  Siapa sih yang mau menanggung penderitaan, yang seharusnya kita nggak tanggung?  Mau pakai cara apa pun ya nggak apa-apa, yang penting kita selamat, ya kan?  Saudara-saudara, Tuhan pasti tidak menghendaki kita untuk mencapai keadilan itu dengan cara yang salah.  Tetapi Tuhan juga tidak menginginkan kita hanya pasrah saja seperti pilihan yang kedua.

 

Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya memilih jawaban yang ketiga, yaitu berdoa memohon keadilan itu kepada-Nya.  Meskipun dalam kenyataannya sangat sulit, bahkan mustahil keadilan itu akan ditegakkan, ketika kita terhimpit dalam ketidakadilan, namun percayalah Saudara-saudara, keadilan itu akan selalu muncul jika kita tetap bertekun dalam doa.  Oleh karena itu, berdoalah bagi keadilan dengan tidak jemu-jemu, karena Allah berjanji akan membenarkan kita yang berdoa demikian. 

 

Penjelasan

Saudara-saudara, janji Allah ini nyata dalam perumpamaan yang telah kita baca tadi.

Dalam perumpamaan ini, kita dapat melihat ada seorang hakim yang jahat.  Mengapa dikatakan demikian?  Sebab hakim ini adalah hakim yang tidak takut akan Allah, tidak mempedulikan sesamanya, dan ia hakim yang tidak adil.  Ini dapat dilihat dari ayat 2.  Hakim ini seorang penjilat, yang hanyamempedulikan orang-orang yang memiliki jabatan atau juga orang kaya.  Pada zaman itu, hakim seperti ini adalah hakim Romawi yang tidak mempedulikan hak orang-orang Yahudi.  Hakim seperti ini sering disebut Dayyaneh Gezeloth, yang diartikan sebagai hakim-hakim pencuri, sebab ia hanya mementingkan UUD,  bukan Undang-Undang Dasar, tapi Ujung-Ujungnya Duit!

 

Nah, suatu saat hakim ini kedatangan seorang janda.  Sepertinya janda ini memiliki masalah beratsehingga janda ini datang kepada hakim itu dan berharap supaya haknya ini dibela oleh hakim tersebut. Apa yang menjadi permasalahan dari janda ini?  Kita tidak tahu pasti. Yang jelas janda itu adalah orang Yahudi yang miskin, yang nggak memiliki tempat untuk berlindung apa pun. Hidupnya sebatang kara.  Nah, inilah yang menjadi sasaran empuk bagi “lawannya”, yaitu orang-orang jahat yang bertidak tidak adil kepadanya. Saudara-saudara, dapat dibayangkan seorang ibu yang nggak punya suami, nggak punya keluarga, hidupnya di bawah pas-pasan, dan menderita, eh… malah diperas sama seorang preman.  Aduh… pasti ibu itu sangat menderita.

 

Saudara-saudara, ketika janda ini datang kepada hakim itu,bukannya ia mendapat pertolongan,justru ia tidak dipedulikan oleh hakim tersebut.  Padahal janda ini memiliki hak yang sama dengan orang lain, bahkan sebagai orang miskin seharusnya ia mendapat perhatian lebih.  Tapi, yah memang dasarnya hakim KUHP (Kasih Uang Habis Perkara), orang kecil kayak janda ini bukan orang yang diharapkan datang kepadanya. Mungkin dalam hatinya ia berkata, ”Emang gue pikirin.  Loe nggak punya duitguenggak peduli!”

 

Namun kedatangan janda ini bukannya cuma sekali dua kali datang, tetapi terus menerus datang dan lagi-lagi datang walaupun  ditolak terus menerus. Alkitab mencatat, kata “selalu” pada ayat 3 menunjukkan bahwa janda ini mendapat perlakuan yang terus menerus diganggu oleh lawan perkaranya itu, sehingga ia terus juga datang pada hakim ini untuk memohon pertolongan.  Dan oleh karena janda itu terus meminta tolong agar haknya itu dibela kapada hakim ini, akhirnya hakim ini mengabulkan permohonan janda itu.  Pemikiran hakim itu bukan, “Aduh kasian janda ini udah miskin, nggak punya orang yang bisa melindungi, hidup lagi!  Ya udah deh, aku kasih aja apa yang dia minta, kan aku hakim yang adil.”  Saudara-saudara, pemikiran ini lebih untung daripada yang sebenarnya ia pikirkan. Sebenarnya, mengapa hakim ini mau mengabulkannya?  Mari kita lihat ay. 5.  Hakim ini merasa risih dengan datangnya janda itu dan bahkan hakim ini takut.  Dia takut kalau sampai-sampai janda ini menyerang dia, karena hak janda ini tidak dipedulikannya.  Akhirnya janda itu beroleh keadilan dari hakim itu.

 

Saudara-saudara, hakim yang digambarkan dalam perumpamaan ini sangat berbeda dengan Allah.  Allah adalah hakim bagi orang hidup dan juga orang mati.  Dia adil dalam memberi segala keputusan,tetapi hakim ini tidak.  Hakim itu sangat tidak adil, ketika seorang janda memohon pertolongan untuk dirinya diberi perlindungan, ia tidak mau mempedulikannya.  Hakim ini tidak sadar, siapa dirinya, sehingga ia meninggikan dirinya dengan tidak mempeduli sesama dan meremehkan mereka.  Sedangkan,Allah kita adalah Allah yang Mahakasih, yang melihat setiap umat ciptaan-Nya sebagai seseorang yang sangat berharga dengan memelihara hidup mereka.  Allah kita tidak sama seperti hakim yang tidak mau mendengar keluh kesah janda itu, tetapi Ia adalah Allah yang selalu mau mendengar seruan permohonan anak-anak-Nya.  Jika hakim yang tak benar saja mau mengabulkan pemohonan janda ini, meskipun pada kenyataannya ia hanya terpaksa, apalagi Bapa kita yang Mahakasih itu, Ia pasti akan mengabulkan permohonan kita yang berseru kepada-Nya dengan penuh kerelaan dan kelimpahan.  Inilah yang dikatakan pada ayat 7. “Pembenaran” dalam ayat ini bukan mengatakan tentang keselamatan, namun mengatakan tentang sebuah keadilan.  NIV mencatat lebih jelas, bahwa kata yang dipakai untuk kata pembenaran adalah kata “justice”, yang artinya adalah keadilan.  Dengan demikian sudah jelas, bahwa Allah akan memberikan janji untuk menegakkan keadilan bagi orang-orang pilihan-Nya yang bertekun dan tetap berseru pada-Nya.  Hal ini juga didukung oleh 1 Petrus 3:12 yang mengatakan, “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong.”

 

Namun Saudara-saudara, yang menjadi permasalahannya sekarang, apakah ada orang-orang yang mau setia dan tekun memohon keadilan itu dalam doa?  Tentu saja pasti sangat enak, jika keadilan itu langsung ada.  Ketika kita memohon, tiba-tiba keadilan itu muncul.  Ibaratnya seperti menang sebuah doorprice yang berhadiah sangat mewah dan isntan.  Tapi tunggu dulu Saudara-saudara, memang Allah pasti akan menjawab setiap permohonan kita,   tapi terkadang kita harus melalui proses penungguan yang panjang dan menyakitkan.  Di ayat terakhir, Yesus menutupnya dengan suatu pertanyaan, “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”.  Dari pertanyaan inilah Tuhan menginginkan orang percaya untuk tetap memiliki iman dalam memohon suatu keadilan itu sampai Anak Manusia itu datang kedua kalinya.

 

Saudara-saudara, tentu selayaknya kita memohon keadilan itu dengan bertekun dalam doa.  Bertekun dalam doa bukan berarti memiliki doa yang panjang, kata-katanya banyak dan diulang-ulang, tetapi doa yang memiliki suatu iman dan pengharapan kepada Tuhan di dalamnya.  Dalam doa itu kita yakin, bahwa Tuhan akan mendengar dan menjawab doa kita.

 

Sama seperti Hana yang terus berdoa memohon seorang anak.  Saat itu ia menderita dengan perlakuan Penina istri lain dari Elkana, suaminya itu.  Penina mengejek Hana karena ia tidak memiliki anak.  Seolah-olah Penina membuat Hana memiliki perasaan bahwa suaminya ini tidak mengasihi Hana.  Padahal dalam kenyataannya tidak. Hana terus berdoa supaya keadilan dapat ia tegakkan dalam dirinya.  Akhirnya, Allah mendengar doanya dan memberinya seorang anak,  Samuel namanya.

 

Ilustrasi

Saudara-saudara, suatu saat sahabat saya men-sharing-kan suatu pergumulan yang ia alami bersama keluarganya.  Ayah dari sahabat saya ini seorang pengacara, namun suatu kali dalam suatu kasus ia dijebak.  Bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh saudaranya sendiri, sehingga ia masuk dalam penjara.  Sebenarnya ia tidak bersalah, hakim pun mengetahui hal itu.  Tapi justru hakim mengail keuntungan didalam kekeruhan masalahnya.  Keluarga ini kecewa dengan keputusan hakim tersebut. Namun, mereka tidak pernah kecewa kepada Allah.  Mereka terus berdoa, bukan untuk seminggu, sebulan, tetapi berbulan-bulan.  Mereka terus-menerus menaruh pengharapan kepada Allah.  Seperti Paulus mengatakan pengharapan itu tidak mengecewakan, dan pengharapan mereka juga tidak mengecewakan.  Allah yang Mahakasih dan  Mahaadil itu menolong keluarga ini melalui rekan-rekan ayah sahabat saya.  Mereka naik banding dan membelanya.  Ia pun terbebaskan.  Allah telah menjawab doa anak-anak-Nya yang bertekun kepada-Nya.

 

Aplikasi

Saudara-saudara, bagaimana jika kitalah yang diperhadapkan dengan situasi serupa?  Mungkin kita merasa geram, marah, dan menderita atas keadaan yang menimpa kita.  Ketika kita difitnah, diperlakukan dengan tidak adil dan merasa keadilan itu mustahil terjadi,  masihkah kita berharap kepada Tuhan? Janganlah kehilangan pengharapan, Saudara. Tuhan mendengar doa kita. Ia melihat perlakukan yang buruk terhadap diri kita. Ia membenci ketidakadilan. Ia pasti akan turun tangan, hanya kita perlu sabar dan tekun menanti waktunya Tuhan.

 

Penutup

Sdr, Allah menginginkan kita untuk tetap berdoa memohon keadilan di tengah-tengah kondisi yang mustahil keadilan ditegakkan. Marilah kita percaya dan selalu berharap kepada Tuhan melalui doa-doa kita.  Sebab Ia akan membenarkan setiap orang yang bertekun di dalam-Nya.  Suatu hari, Ia sendiri akan menyatakan keadilannya sebagai jawaban dari doa-doa yang kita panjatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *