Renungan Berjalan bersama Tuhan

Gunung yang Mulia

Gunung yang Mulia

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 17:1-13

Menjelang akhir hidup-Nya di kayu salib, Tuhan Yesus benar-benar membutuhkan murid-murid-Nya untuk menguatkan-Nya sebagai manusia. Oleh karena itu, suatu hari Dia mengajak tiga murid yang paling dekat dengan-Nya, Yohanes, Yakobus, dan Petrus, untuk  naik ke atas gunung dan berdoa di sana. Tentu tempat itu dipilih-Nya karena suasananya yang sejuk dan tenang, tidak terganggu oleh hiruk pikuknya kota.

Pada saat Tuhan Yesus sedang berdoa, muncullah Musa dan Elia mendampingi-Nya. Mereka datang untuk memberitahukan bahwa saatnya hampir tiba bagi Anak Manusia untuk pergi ke Yerusalem dan mati disalib. Itulah puncak pemberitahuan visi dan misi Allah kepada Anak-Nya yang tunggal. Waktu Allah—kairossemakin dekat. Hal itu tidak bisa ditolak atau dihindari, kita juga tidak mungkin melarikan diri dari realitas itu, tetapi harus dihadapi. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Itulah instruksi Allah Bapa. Kemuliaan yang tampak di atas gunung itu ternyata memberi kepastian bahwa kayu salib sudah disiapkan. Kelihatannya memang kontradiktif: Tuhan Yesus dimuliakan tetapi sekaligus harus menghadapi kayu salib.

Suasana dan pemandangan saat itu sangat indah. Belum pernah ketiga murid-Nya menyaksikan peristiwa seperti itu. Tuhan Yesus didampingi oleh Musa dan Elia, dan kemuliaan Allah yang luar biasa hadir di sana! Maka tidak mengherankan bila Petrus berkata: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Matius 17:4). Betapa menyenangkan menikmati kemuliaan Allah. Tidak ada tempat peristirahatan senyaman itu, bahkan melebihi hotel bintang lima atau vila supereksekutif yang paling modern.

Namun, apakah itu tujuan Tuhan Yesus mengajak ketiga murid-Nya menyaksikan peristiwa tersebut, yaitu agar tempat yang mereka lihat itu akan menjadi tempat tinggal mereka? Tentunya tidak demikian. Yang dipercakapkan-Nya bersama Musa dan Elia tak lain adalah kayu salib. Tuhan Yesus harus turun dari gunung, lalu naik ke atas kayu salib. Kenikmatan pribadi yang diangan-angankan Petrus bertolak belakang dengan penderitaan yang harus dijalani-Nya. Anak Manusia memang harus mati untuk menebus dosa umat manusia. Dia harus turun dari gunung untuk memikul salib itu. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk melihat realitas kehidupan, bukan hanya hal-hal yang menyenangkan, memuaskan, dan memberikan kenikmatan, melainkan seluruh kehidupan ini dengan utuh. Ajarlah aku untuk berani menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada di depan.
  2. Tuhan, berilah aku kekuatan tatkala aku harus menjalani tantangan yang berat. Aku percaya bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini berada dalam rencana-Mu yang indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *