Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hai Anakku, Jika …

Hai Anakku, Jika …

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah” (Amsal 2:1,5). Sapaan Amsal kepada umat-Nya, dengan sebutan “Hai anakku … ” yang menjelaskan relasi antara bapa dan anak. Bapa berkata kepada anak-anaknya, “Jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku dalam hatimu.” Jikalau telingamu mau mendengar apa yang kuajarkan, mau menerima atau memperhatikan hikmat yang aku beritahukan kepadamu; lalu dari apa yang kamu dengar itu masuk dalam hatimu, kemudian kamu mencondongkan hatimu pada hikmat itu, berarti kamu menerima perkataan dan perintahku. Dengan kata lain, orang yang menerima perkataan-Nya dan menyimpan perintah-Nya adalah orang yang bersedia mendengar dengan baik dan apa yang didengarnya itu mengubah sikap hatinya. Orang yang demikian adalah orang yang mengenal Allah dengan benar. Ia menjadi orang yang menjalani hidupnya dengan takut akan Tuhan. Ia benar-benar tahu mana yang baik dan jahat, yang benar dan salah, yang boleh dilakukan dan dilarang oleh Tuhan.

Sangat bahaya sekali kalau ada orang yang sudah tidak tahu lagi apa yang dilakukan, apakah itu baik atau jahat, benar atau salah, menguntungkan atau merugikan orang lain, mencelakakan atau menyelamatkan, dan sebagainya. Kalau tidak bisa membedakan, pasti orang itu akan hidup dalam keadaan yang sangat mengerikan. Ia menjadi orang yang tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Berbeda dengan orang yang tahu membedakan mana yang benar dan salah, yang kudus dan najis, yang kejam dan penuh belas kasihan, yang dendam dan pengampun, dan sebagainya. Ia akan menjadi orang yang dapat menjalani hidupnya dengan menyenangkan hati Tuhan sekaligus sesamanya. Bukan dalam arti untuk mendapatkan sesuatu atau imbalan. Bukan untuk mengambil keuntungan. Bukan pula untuk “menjilat” seperti pepatah “ada udang di balik batu”. Orang yang menyenangkan Tuhan dan sesama adalah yang benar-benar tahu bagaimana melakukan kebenaran, kejujuran, keadilan, kasih yang tidak memihak, pengampunan, dan sebagainya. Ia semakin mengenal Allah dengan benar: sifat Allah, kehendak Allah, pekerjaan Allah, rencana Allah dalam dirinya, dan sebagainya. Telinganya siap mendengar hikmat Tuhan dan hatinya terbuka untuk menyimpan apa yang didengar. Kemudian ia melakukan kebenaran itu dalam hidupnya sehari-hari, karena sudah mendengar hikmat dan hatinya diubah oleh hikmat. Ia menjadi orang yang diberkati Allah. Amin.

Pokok Doa:

  • Tuhan, sertai hidupku untuk mudah menerima firman Tuhan, terlebih lagi yang menegur, mengingatkan, atau yang mengkritik hidupku. Biarlah firman Tuhan, Sang Hikmat menuntun langkah hidupku dengan benar.
  • Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja-Mu untuk selalu terbuka menerima kebenaran firman Tuhan, terlebih lagi masukan-masukan yang memberikan kritik yang membangun. Terkadang tidak mudah karena kami merasa diri sendiri selalu benar dibandingkan pihak lain, sehingga gereja tidak mampu menerima kritikan atau masukan. Pimpinlah para penatua dan para hamba Tuhan untuk terus belajar menerima kekurangan dan berusaha untuk terus berubah sesuai dengan firman Tuhan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *