Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hari Libur Rohani

Hari Libur Rohani

oleh: Pdt. Nathanael Channing

Markus 6:30-32

Setiap tahun pasti ada hari libur. Apa yang kita lakukan ketika hari libur tiba? Yang jelas, kita pasti senang karena hari itu sudah dinanti-nantikan dan karena pada hari libur semua rutinitas yang bisa menjenuhkan berhenti. Sekolah libur, sebagian besar kantor, toko, pasar, dan lainnya tutup. Tentunya pada hari libur ada banyak acara sudah direncanakan. Ada yang merencanakan untuk berlibur bersama keluarga, berekreasi baik ke tempat yang jauh maupun dekat. Ada yang hanya tinggal di rumah karena ingin membersihkan rumah, “kerja bakti” menata rumah supaya kelihatan bersih dan rapi. Yang pasti, hari libur memberikan kesan tersendiri karena ada banyak acara khusus yang menarik.  Mengapa pada hari libur banyak orang mempunyai rencana-rencana tertentu? Secara umum, semua itu dilakukan untuk memberikan kesegaran jiwa yang sudah letih dan lelah dalam menjalani hidup sehari-hari. Ternyata hidup itu sangat membutuhkan apa yang disebut refreshing, penyegaran kembali, supaya melalui penyegaran itu kita dapat kembali menjalani hidup ini dengan penuh semangat dan gairah kerja yang baru, pemikiran yang cemerlang dan sikap hati yang lebih sabar, tidak emosional atau bahasa kerennya “lebih mampu mengendalikan emosi.”

Memanfaatkan hari libur untuk berekreasi atau melakukan kegiatan-kegiatan di luar rutinitas kerja itu sungguh baik. Semua itu bertujuan untuk memberikan kesegaran bagi tubuh dan jiwa. Bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Apakah kita juga sempat memikirkan bahwa perlu ada waktu untuk beristirahat agar dapat melakukan penyegaran rohani kembali. Mungkin sampai di sini kita bertanya, “Apakah kehidupan rohani itu perlu penyegaran? Apakah kehidupan rohani itu bisa lelah?” Jawabnya, “mengapa tidak?” Kita bisa mengalami kelesuan  dalam  hidup  kita, hati kita bisa kosong dan kita tidak memiliki gairah dalam beribadah, berdoa, dan membaca firman Tuhan. Kerohanian yang lemah akan selalu diikuti dengan sikap patah semangat, keputusasaan, dan memandang ke depan dengan sikap suram.

Tuhan Yesus berkata kepada para rasul, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Markus 6:31). Tuhan Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk beristirahat ke tempat yang sunyi. Tempat yang sunyi adalah tempat yang paling tepat untuk beristirahat dan memberikan kesegaran. Itu berlawanan dengan tempat yang ramai karena tempat yang ramai adalah tempat untuk bekerja, berkarya, dan berusaha menjalani kehidupan ini. Di tengah keramaian yang terus berlangsung akan timbul kelelahan, dan kelelahan mengakibatkan kejenuhan, bahkan keputusasaan. Dalam hidup ini perlu ada tempat yang sunyi bagi kita. Tempat yang sunyi adalah tempat yang tidak disibukkan dengan keramaian, tempat yang tanpa kebisingan, tempat yang tenang untuk menyendiri, berdiam diri dengan diri sendiri dan bersama Tuhan. Tuhan Yesus mengajak murid-murid-Nya menuju ke tempat itu, di mana mereka dapat menyendiri, bersekutu dengan Tuhan—Bapa di surga. Itulah yang terus dilakukan oleh Tuhan Yesus di tengah keramaian, kesibukan, dan kepadatan pelayanan-Nya. Memberikan tempat yang sunyi di tengah keramaian merupakan dasar kesegaran dalam menjalani kehidupan yang lebih segar. Tujuan berada di tempat yang sunyi itu, entah pagi hari atau malam hari, adalah untuk memperkuat pertumbuhan rohani di tengah keramaian dan kesibukan kerja kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *