Renungan

Hasil Curian itu Nikmat?

Hasil Curian itu Nikmat?

 

“Air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya.”

(Amsal 9:17)

 

Suatu kali saya melayani di sebuah lembaga pemasyarakatan. Di luar dugaan, saya berjumpa kembali dengan orang yang pernah saya layani di lembaga pemasyarakatan yang lain. Dulu ia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya, tetapi kenyataan menunjukkan ia kembali masuk penjara. “Kok bisa masuk lagi ke tempat ini?” tanya saya.

 

Ia terdiam, mulai tersenyum, lalu menjawab, “Ya, saya tahu mencuri itu salah, Pak, tapi hasilnya besar dan prosesnya cepat. Lebih enak mencuri daripada kerja apa pun.”

 

“Air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya” ( Amsal 9:17).

Amsal ini menggambarkan perasaan orang-orang yang menikmati hasil curian atau melanggar ketentuan tertentu. Menurut orang-orang ini, ada kepuasan tertentu ketika menikmati hasil curian atau ketidakjujuran. Kepuasan inilah yang membuat mereka terjatuh ke dalam dosa dan kesalahan yang sama.

 

Satu hal yang terlupakan adalah pelanggaran dan kejahatan tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga merugikan pelaku kejahatan itu sendiri. Manisnya hasil kejahatan dan pelanggaran akan merusak karakter pelaku kejahatan. Karakter yang rusak hanya akan membawa pada kebinasaan. Hanya masalah waktu saja kapan kebinasaan itu terjadi.

 

Hasil curian dan pelanggaran mungkin membawa kepuasan sejenak. Kepuasan yang terus minta diulang, tak peduli lagi aturan. Kepuasan yang harus dibayar mahal dengan rusaknya karakter dan kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *