Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hati Orang Bebal Tak Ada Hikmat

Hati Orang Bebal Tak Ada Hikmat

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.” (Amsal 14:33)

Nasihat Amsal selalu membedakan antara orang yang berpengertian dengan orang yang bebal. Orang yang berpengertian mempunyai pengetahuan tentang kebenaran, sedangkan orang bebal juga mempunyai pengetahuan, tetapi pengetahuan yang dimilikinya adalah pengetahuan yang bebal, yang tidak berada dalam kebenaran Tuhan, pengetahuan yang menurut kehendak dirinya sendiri, baik dan benar menurut dirinya sendiri, tidak ada format, patokan, atau standar dalam kebenaran. Oleh karena itu orang bebal berjalan menurut kehendak dirinya sendiri, bahkan berani melawan Tuhan, apalagi sesamanya.

Tepat yang dikatakan Amsal, “Hikmat tinggal dalam hati orang berpengertian.” Dalam terjemahan lama dikatakan, Wisdom is not made known. Hikmat itu diberikan kepada orang yang berpengertian, berpengetahuan. Hikmat itu menjadi jati dirinya, ada di dalam dan keluar dari hati dan pikiran orang yang berpengetahuan. Hikmat itu tidak perlu dipublikasikan, digembar-gemborkan kalau dirinya orang berhikmat. Namun hikmat itu dilakukan dalam realitas hidup sehari-hari. Ia tahu bagaimana membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara keadilan dan kekejaman, antara kejujuran dan kebohongan. Untuk apa hikmat tinggal dalam hati orang yang berpengertian dan tidak pada orang bebal? Karena hikmat itulah yang akan menuntun orang yang memiliki hati yang berpengertian. Hati yang mau diterangi oleh hikmat, karena hikmat adalah kebenaran Tuhan, firman-Nya yang menuntun langkah hidupnya, yang membentuk karakter, sifat-sifat, temperamen, kelemahan yang ada dalam dirinya, pikiran dan isi hatinya, kehendak dan nafsunya, semua itu terus dibentuk oleh Tuhan. Banyak dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, orang-orang yang dibentuk oleh Tuhan seperti Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud, Petrus, Paulus, dan sebagainya. Orang yang hatinya berpengertian adalah mereka yang mau terus belajar, karena ia mencari kebenaran, melakukan kebenaran dalam hidupnya, berusaha bergumul dari hari demi hari untuk menjadi orang yang takut akan Tuhan. Hati, pikiran, dan kehendaknya terus bergumul menghadirkan kebenaran dalam langkah hidupnya sehari-hari, baik dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan kesaksian hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *