Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hati yang Membatu!

Hati yang Membatu!

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 11:25-30

Kita sering mendengar orang berkata, “Orang itu hatinya keras, bahkan sudah membatu!” Artinya, ia sudah tidak bisa diberitahu lagi. Apa yang sudah menjadi prinsip atau pendapatnya, sama sekali tidak bisa diubah dengan cara apa pun dan oleh siapa pun. Akhirnya, ia dibiarkan saja berbuat semaunya sendiri. Bahkan kalau ia mengalami kesakitan, semua orang lepas tangan karena jengkel dengan sikapnya yang keras kepala itu. Orang-orang ini misalnya adalah saudara-saudara kita yang memiliki kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, atau yang kecanduan narkoba. Juga orang yang suka makan. Dokter sudah menasihati agar ia berpantang ini dan itu karena faktor kesehatan, tetapi ia tetap nekad dan tidak mau mengubah pola makannya. Tidak ada yang mampu memberitahunya karena ia selalu memberikan alasan untuk membenarkan dirinya sendiri.

Yang menjadi persoalan, bagaimana orang bisa memiliki sikap hati yang demikian keras? Itulah uniknya manusia! Manusia mempunyai hati dan pikiran yang bisa menyatu dengan kehendak, kemauan, kebutuhan, dan kepentingan diri sendiri. Begitu ia teguh memegang pendapatnya, tak seorang pun bisa mengubahnya, selain dirinya sendiri.

 

Bagaimana bisa demikian? Ternyata hal itu bisa disebabkan oleh pengalaman-pengalaman hidup pribadi yang membentuk seseorang dari kecil sampai dewasa. Pengalaman pertama tentunya setelah ia lahir. Sejak lahir ia belajar dari sikap hidup orangtuanya, entah keras, lemah lembut, teratur, berantakan, disiplin, acuh tak acuh, penuh kasih sayang, tiap hari bertengkar, hidup egois, atau terbiasa saling gotong-royong, dan sebagainya. Sejak kecil dan belum mengerti apa-apa, ia sudah mampu merekam apa yang terjadi di sekitarnya. Kemudian, ia bersekolah mulai dari kelompok bermain sampai lulus perguruan tinggi, atau jika ada kesempatan, sampai mencapai gelar pascasarjana. Pengalaman-pengalaman pendidikan ini sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap hati dan pikirannya. Pengalaman yang lain ialah ketika ia bergaul dengan masyarakat. Ada banyak kejadian yang pasti membentuk kepribadiannya.

 

Pembentukan karakter, sikap hidup, dan pola pikir, semuanya dipelajari sejak kecil sampai lanjut usia. Tuhan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Matius 11:29). Kita harus terus belajar dari Tuhan Yesus. Belajar menjalani hidup yang penuh dengan pergumulan, beban, masalah, tantangan, dan kesulitan lainnya. Dia sudah memberikan contoh yang konkret. Marilah kita terus belajar untuk mengubah sikap dan pikiran kita sehingga semakin serupa dengan-Nya. Hanya orang bijak yang mau mengubah hatinya untuk hal yang benar. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk terus belajar dari firman-Mu dan mencontoh teladan-Mu sehingga aku mampu mengatasi semua perkara dalam hidupku. Aku mampu karena Engkau memampukan aku dan memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang kuhadapi. Ya Tuhan, ajarlah aku untuk selalu bersyukur karena anugerah-Mu senantiasa memberkati, menyertai, dan memampukanku untuk mengatasi segala pergumulan hidupku.
  2. Tuhan, kami berdoa agar sekolah-sekolah Kristen dapat membentuk anak-anak yang berkarakter kristiani. Kiranya anak-anak itu dipertemukan dengan-Mu serta memiliki kehidupan yang takut akan Engkau. Kami berdoa agar mereka terus memelihara kekudusan, belajar dengan penuh tanggung jawab, dan mampu menjadi teladan bagi sekitar mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *