Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hati yang Paham Menimbang

Hati yang Paham Menimbang

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Raja-raja 3:1-15

Apakah hati itu? Mudah menjawabnya. Hati adalah salah satu bagian organ tubuh yang penting, sebutan lainnya adalah lever. Namun, jika pertanyaannya “Apakah isi hatimu?”, tentu maksudnya bukan apa isi lever Anda. Hati dapat berarti wadah atau tempat untuk menimbang dan memutuskan suatu perkara yang kita inginkan. Itulah hati. Di dalam hati akan muncul harapan dan keinginan. Apa yang diinginkan hati akan dipindahkan atau dikirim ke otak supaya dipikirkan oleh otak. Setelah dipikirkan, otak akan mengatur untuk dilaksanakan dalam tindakan. Otak mengatur sedemikian rupa untuk memenuhi permintaan hati. Wilayah pikiran akan berkata, “Apa yang harus saya kerjakan dan lakukan agar mendapatkan apa yang diinginkan hati.” Dan semua itu bermuara dari apa yang diinginkan oleh “Hati”.

Buku The Christian and Gods World  mengulas dengan sangat baik mengenai apa yang harus dilakukan oleh hati yang bijak. “Dengan pengertian kita diajak untuk membedakan antara yang baik dan jahat tentang dunia. Allah membuat seluruh ciptaan-Nya, yaitu dunia dengan segala isinya adalah baik adanya. Namun, setelah manusia jatuh ke dalam dosa, dunia dan seisinya menjadi jahat. Kemudian, bermunculanlah bidat-bidat atau ajaran-ajaran sesat di dalam dunia ini. Bidat-bidat itu mengatakan bahwa dunia benda, hidup fisik, dan kesenangan duniawi itu tidak bernilai jahat. Selama berabad-abad, sejak manusia jatuh ke dalam dosa, ini sudah menjadi pola hidup manusia. Tanpa disadari, orang yang memasuki wilayah itu sudah terjebak dalam kejahatan. Bukankah orang ingin mendapatkan segala hal yang diinginkan dengan segala cara? Tidak peduli apakah hal itu merugikan atau menghancurkan orang lain. Bukankah orang yang ingin memuaskan kehidupan fisiknya, nafsunya, sebenarnya pada saat itu ia sedang menyakiti pihak lain? Bukankah untuk memperoleh kesenangan duniawi, orang kerap melakukannya dengan cara yang sangat kotor? Selama berabad-abad kaum bidat itu telah menghantui orang Kristen dan menghasilkan hal-hal yang buruk; antitesis palsu antara hal yang bersifat materi dan spiritual; kesalahan palsu dalam pemahaman tentang menikmati makanan, kenyamanan fisik, dan seks dalam pernikahan; kesombongan dalam kesalehan, dan sebagainya.

Jadi, janganlah kita terjebak dalam pemahaman bahwa apa yang ada di dalam dunia ini tidak jahat! Marilah kita belajar seperti Raja Salomo. Ia meminta kepada Allah, “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat” (1 Raja-raja 3:9). Salomo meminta kepada Allah “kepekaan untuk menilai” apa yang ada di dalam dunia ini, khususnya mengenai apa yang baik dan apa yang jahat! Pada saat hati kita mampu memberikan pertimbangan antara yang baik dan jahat, maka di situlah kita mempunyai hati yang bijaksana. Hanya ada satu cara agar kita dapat benar-benar memberikan pertimbangan antara mana yang baik dan yang jahat, yakni selalu berelasi dengan Tuhan melalui kebenaran firman Tuhan. Hati yang bijaksana adalah hati yang selalu berelasi dengan Tuhan. Firman Tuhan menjadi dasar yang kuat untuk menimbang mana yang baik dan yang jahat. Hati yang terus berpaut pada firman-Nya akan semakin bijak dalam menyelesaikan segala perkara. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *