Khotbah Perjanjian Lama

Hati yang Pahit : Berakar dan Berbuah dalam Keluarga

 

Hati yang Pahit : Berakar dan Berbuah dalam Keluarga (Hakim-hakim 11)

oleh : Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

11:29 Lalu Roh TUHAN menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. 11:30 Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, 11:31 maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.”11:32 Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. 11:33 Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroer sampai dekat Minit–dua puluh kota banyaknya–dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel. 11:34 Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. 11:35 Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.”

 

Tragis. Inilah satu kata yang dengan tepat menggambarkan nasib anak perempuan sekaligus anak tunggal Yefta. Anak perempuan itu harus berakhir hidupnya di tangan Yefta sang pemimpin Israel sekaligus ayah kandungnya. Ketika menghadapi peperangan melawan Amon, Yefta mengucapkan nazar bahwa apa yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya akan dipersembahkan menjadi korban bakaran, jika ia pulang membawa kemenangan. Yefta menang, tapi ironisnya anak perempuan tunggalnya yang pertama kali menyambutnya. Yefta harus memenuhi nazarnya, walau itu berarti mengorbankan anak tunggalnya sendiri. Kisah lengkap tentang hal ini dapat dibaca dalam Hakim-hakim 11.

Nazar (bahasa Ibrani : nadar) adalah sebuah janji yang secara sukarela dinyatakan di hadapan Allah sebagai ganti atas sesuatu yang diharapkan akan diberikan atau dilakukan Allah. International Standart Bible Encyclopedia (ISBE) memberikan penjelasan bahwa di dalam seluruh pemaparan Alkitab tidak ditemukan perintah untuk membuat nazar, tetapi memenuhi nazar yang telah dibuat adalah sebuah keharusan yang mengikat. Bahkan menunda pemenuhan nazar adalah sebuah dosa (Ul. 23:21).

 

Berakar di Dalam Keluarga
Jika membuat nazar bukanlah sebuah keharusan, tetapi tindakan sukarela, mengapa Yefta membuat nazar? Bahkan sebuah nazar yang dapat dikatakan ceroboh, karena siapa atau apa saja dapat keluar dari pintu rumahnya untuk menyambutnya. Nampaknya bagi Yefta kemenangan atas orang Amon adalah hal yang sangat penting untuk mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin orang Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *