Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hidup Dilihat Orang Terdekat

Hidup Dilihat Orang Terdekat

1 Yohanes 5:1-5

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Pak Karyo seorang karyawan yang setia. Ia sudah mengabdikan dirinya selama 32 tahun dan sampai hari ini belum pensiun. Dalam usianya yang sudah menginjak 67 tahun, tubuhnya masih tegap dan gagah. Ia masih sigap dan cekatan mengerjakan tugas hariannya sebagai sopir pribadi. Ia bekerja sejak usia 18 tahun, dari bujangan sampai hampir mempunyai cicit. Semua orang menyukai kinerja dan penampilan serta keramahannya. Ia tidak hanya berteman baik dengan para tetangganya, tetapi juga di tempat kerjanya. Ia pun dikenal baik di kalangan gereja atasannya karena sang atasan adalah aktivis gereja yang sangat baik. Jika gerejanya kekurangan tenaga sopir maka Pak Karyo pun kerap diperbantukan ke sana. Ia pun hampir dianggap sebagai sopir gereja. Pak Karyo mengenal dengan baik semua pendeta, majelis jemaat, dan para aktivis karena seringnya ia mengantar mereka.

Kehidupan Pak Karyo menarik. Ia lahir dari keluarga yang tidak mengenal Kristus. Ia percaya bahwa ia berada di dalam dunia ini karena takdir. Hidup cukup dijalani dengan berbuat baik, maka nasib yang sudah digariskan dari atas akan berjalan dengan baik pula sampai ia meninggal. Itulah keyakinan Pak Karyo. Allah itu ada atau tidak, itu bukan masalah baginya karena sekal kecil ia tidak pernah diajar tentang keberadaan Allah. Baginya, hidup ini adalah untuk bekerja, makan, minum, dinikmati, dan akhirnya mati. Tidak pernah terpikirkan bagaimana ia setelah mati. Baginya, jika ia mati, maka tugasnya di dunia usai, dan ia pun kembali menjadi tanah. Walaupun dekat dengan orang gereja, Pak Karyo tetap tidak mengenal Tuhan. Setelah diteliti lebih dalam, ternyata selama bertahun-tahun telinga Pak Karyo ini terbuka lebar-lebar untuk mendengar apa yang menjadi bahan percakapan setiap orang Kristen. Mata Pak Karyo memandang dengan bebas apa yang dilihatnya mengenai tingkah laku anak-anak Tuhan. Pak Karyo mendengar isi 1 Yohanes 5:2, “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” Ternyata apa yang dilihat dan didengar oleh Pak Karyo berbeda dengan apa yang diketahuinya.

Penguasaan umat Kristen akan firman Allah hanya sampai di pikiran dan tidak diwujudkan dalam tutur kata dan tingkah laku. Ada tembok pemisah yang sangat besar antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan. Itulah pengamatan Pak Karyo selama ini. Tak heran bila ia menyimpulkan bahwa antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama tidak ada bedanya. Jadi, apa gunanya beragama? Kasih yang sejati itu tidak terlihat dalam realitas kehidupan anak-anak Tuhan. Itu yang menghambat Pak Karyo untuk bertobat! Bagaimana dengan kehidupan iman dan kesaksian hidup kita? Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *