Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hidup Menyendiri

Hidup Menyendiri

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan” (Amsal 18:1)

Apakah Anda orang yang suka menyendiri atau mempunyai teman yang suka menyendiri? Ya, orang yang bertemperamen Phlegmatic atau Melancholic lebih suka menyendiri. Ia merupakan tipe orang yang pendiam, tidak suka bergaul, lambat bertindak, sangat berhati-hati, sederhana, dan sebagainya. Ia lebih menikmati  kesendiriannya daripada ramai-ramai dalam kebisingan. Jika demikian, sebenarnya apa yang dimaksud oleh Amsal dengan “Orang yang menyendiri, mencari keinginannya”. Yang dimaksud di sini tidak terkait dengan temperamen seseorang, tetapi orang yang selalu menarik diri dari lingkungannya sehingga ia tidak mau bergaul sama sekali. Menyendiri karena tidak suka dengan orang lain. Banyak alasan yang dapat dikemukakan tentang mengapa seseorang tidak mau bergaul dengan orang lain. Bisa karena minder, atau merasa diri selalu benar dan orang lain salah, atau merasa tidak aman dan tidak nyaman ketika bersama orang banyak.

Ada ketakutan dan perasaan terancam ketika hadir di tengah-tengah banyak orang. Dengan berbagai alasan itu, ia lebih suka menyendiri. Ketika menyendiri, ia akan menjadi orang yang terus-menerus mencari keinginannya sendiri pula. Keinginan yang tidak pernah terkait dengan orang lain selain dengan dirinya sendiri. Keinginan yang ingin memuaskan diri sendiri, egonya sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain. Mungkin kita bisa beranggapan bahwa jika memang orangnya demikian, biarkan saja. Jika dipaksa untuk bergaul bersama orang banyak, kemungkinan besar ia akan selalu membuat ulah, membuat keributan, tidak cocok dengan yang ini dan itu. Biarkan ia bersama dirinya sendiri. Memang bisa demikian, tetapi dengan cara itu ia akan menjadi orang yang tidak pernah bertanggung jawab. Jika ia menjadi kepala rumah tangga, maka semuanya bisa ditinggalkan demi kesenangannya menyendiri. Ia tidak peduli bahwa sebagai kepala rumah tangga ia harus bekerja, mencukupi kebutuhan keluarga, bertanggung jawab ketika keluarga menghadapi tantangan dan kesulitan, membimbing anak-anak yang sudah mulai besar, dan sebagainya. Itu semua bisa ditinggalkan demi menyenangkan dirinya sendiri dengan cara menyendiri.

Apa yang dikatakan Amsal ketika orang itu suka menyendiri? Ia akan menjadi orang yang suka marah karena menolak pertimbangan-pertimbangan yang mengingatkan dirinya. Ternyata orang yang suka menyendiri adalah orang yang mudah marah, bahkan menjadi pemarah! Ketika tindakan menyendiri dilakukan terus-menerus, hal itu membuktikan bahwa ia bukan orang yang  bertanggung jawab. Oleh karena itu, ia diingatkan, dinasihati, diberi pertimbangan yang baik dan benar. Namun, ia dengan mudahnya menolak semua pertimbangan itu, dan jika tetap terus dinasihati, ia akan marah. Tuhan tidak menciptakan kita untuk hidup menyendiri, tetapi berbaur dengan orang banyak. Kita adalah makhluk sosial yang selalu berintaksi dengan orang lain, bersama orang lain, dan berbagi hidup dengan orang banyak. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *