Khotbah Perjanjian Baru

Hidup Tanpa Menghakimi

Oleh: Maria Natalia

Matius 7:1-5

Pendahuluan

(Memutar video wanita gemuk yang dituduh sebagai orang yang kentut di dalam lift, hanya karena badannya gemuk). Dunia sering kali tidak adil, dunia memandang orang berdasarkan rupa dan rasanya teramat mudah untuk menghakimi orang lain. Pernahkah bapak ibu saudara pernah dihakimi atau dikritik dengan cara yang tidak tepat? Saya rasa setidaknya satu kali masing-masing kita pernah mengalaminya. Saya pun pernah mengalaminya, bahkan dalam dunia pelayanan. Setelah selesai melakukan pelayanan, sudah merasa memberikan yang terbaik, seseorang dengan mudah mengatakan pada saya: “Yang ini nih bagus, kalau yang kamu buat itu, ngawur!”  “Tidak manusiawi ya, pengaturan yang dibuat.” Bagaimana rasanya dihakimi seperti itu? Rasa sakitnya tuh, disini. Kebanyakan kita tahu bahwa dihakimi itu rasanya tidak enak dan jarang sekali penghakiman itu memberi manfaat. Penghakiman hanya akan menimbulkan efek samping berupa rasa sakit dan kemarahan pada pihak orang yang dihakimi.

Di sisi lain, ada orang-orang yang juga merasa “Only God can judge me” atau “Hanya Tuhan saja yang bisa atau berhak menghakimiku.” Dengan dalih itu, sering kali mereka kebal terhadap segala bentuk pengoreksian yang dilakukan oleh orang lain terhadapnya. Akhirnya yang terjadi adalah orang itu bertindak semau-maunya, tanpa peduli masukan, kritik, nasihat dari orang lain. Semua dipukul rata dalam kata “Penghakiman.” Apalagi ketika membaca firman Tuhan hari ini, saat Yesus berkata: “Jangan menghakimi.” Mungkin ada jari yang mulai menunjuk dan hati yang mulai memikirkan orang yang kita pikir sudah “Menghakimi” kita. “Pada orang itu akan saya tunjukkan ayat ini, biar tahu rasa.” Orang jadi memilih untuk bersikap apatis terhadap kesalahan orang lain, karena enggan untuk disebut “Menghakimi orang lain.”

SS, kita hidup dalam dunia yang penuh dengan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Artinya untuk mengharapkan bahwa tidak ada kesalahan sama sekali dari orang lain tentu mustahil. Karena itu, penting bagi kita untuk mengerti bagaimana bersikap terhadap kesalahan yang diperbuat oleh orang lain. Itulah pentingnya kita belajar bersama-sama apa arti dari “Jangan menghakimi” yang Yesus buat di sini, agar kita memiliki pemahaman dan pedoman untuk kita bisa bersikap sebagai anak-anak Allah.

SS, dalam ayat 1, Yesus dengan jelas mengatakan: “Jangan Menghakimi.” Banyak penafsir mengatakan bahwa mungkin ayat ini adalah salah satu ayat yang paling banyak salah dikutip oleh orang-orang untuk membenarkan dirinya. Ketika melihat orang lain yang melakukan kritik atau koreksi atau teguran, semua dipukul rata dengan kata “Menghakimi.” Tidak boleh, orang Kristen tidak boleh menghakimi, begitu katanya. Apa artinya “Jangan menghakimi?” Apakah Ia memaksudkan bahwa semua perilaku menghakimi adalah salah tanpa pengecualian, sehingga karena hormat kita pada sesama kita tidak diizinkan untuk mengekspresikan opini apa pun, atas dasar respek padanya kita tidak boleh menyuarakan opini yang berbeda? Namun benarkah demikian? Bukankah dalam Yohanes 7:24 Yesus sendiri pun yang berkata: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Berarti boleh dong, menghakimi? Untuk memahami isu ini dengan baik kita perlu mengerti arti kata ini dalam bahasa aslinya. Kata “Menghakimi” (krinō) dalam Alkitab bisa berarti menilai, membedakan, menghukum, atau menghakimi. Arti mana yang benar tergantung konteks yang ada. Dengan demikian, konteks harus menjadi pedoman utama dalam memahami larangan “Jangan menghakimi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *