Khotbah Perjanjian Lama

Hidup dalam Waktu Tuhan

Yang lebih membuat frustrasi Pengkhotbah adalah bahwa Allah memberikan “kekekalan” dalam hati manusia.  Kekekalan yang dimaksud di sini adalah suatu kerinduan yang besar untuk mengenali apa yang menjadi rencana Allah di balik semua hal yang terjadi.  “Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir!”  Siapa sih yang tidak penasaran dengan masa depan kita; siapa sih yang tidak ingin tahu siapa pasangan hidupnya; bagaimana bisnis masa depannya; bagaimana kehidupannya setelah ini—semuanya itu disebabkan oleh kekekalan dalam hati manusia tersebut.  Bagi Pengkhotbah, hal ini semakin menimbulkan frustrasi.  Ada keinginan untuk mengetahui segala sesuatu di dalam rencana Allah namun mustahil.  Tidakkah itu yang sering kita alami juga?  Apabila kita baru saja tertimpa musibah atau semacamnya, kita seringkali bertanya “mengapa?”  Tapi apakah Tuhan menjawab?  Tidak.  Ayub yang sudah menderita sedemikian rupa pun terus bertanya kepada Allah apakah yang menjadi kesalahannya.  Apa jawab Allah?  Tidak ada.  Allah malah balik bertanya kepada Ayub dengan serangkaian pertanyaan yang menunjukkan kuasa dan hikmat-Nya yang tidak terselami.  Itulah sebabnya Pengkhotbah menyimpulkan bahwa “Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” (14).  Pada akhirnya kita harus dengan tegar menyatakan bahwa Allah adalah Allah dan kita bukanlah Allah.  Tidak sanggup kita memahami apa yang dilakukan-Nya di dunia ini.

 

Carpe Diem, Nikmati Hari Ini

Apa solusinya?  Pengkhotbah menawarkan carpe diem atau apa yang disebut sebagai ajakan untuk hidup untuk hari ini tanpa memikirkan masa depan.  Ia menyatakan “tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.  Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”  Apabila segala sesuatu sudah ditentukan Allah, maka apalah gunanya memusingkan masa depan kita?  Live for the present! Hiduplah untuk hari ini saja!  Memang ini terdengar seperti seruan orang putus asa atau desperate, tapi bukankah ini memang implikasi logis dari kenyataan yang diutarakan Pengkhotbah?  Selain dari pada itu, takutlah akan Allah, karena hanya Dialah yang mengetahui dan mengontrol masa depan.

Tetapi sekarang ini kita hidup dalam masa Perjanjian Baru di mana Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus.

Bukan berarti kita sudah bisa memahami masa depan atau menyelesaikan permasalahan sang Pengkhotbah di sini, namun oleh sebab kebangkitan, Paulus dengan berani menyatakan bahwa “jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).  Mengapa bisa tidak sia-sia?  Sebab Kristus sudah bangkit dari antara orang mati.  Kebangkitan-Nya bukan sekadar kebangkitan spiritual, namun kebangkitan tubuh.  Kristus tidak tetap mati, namun bangkit.  Artinya pengharapan kita sudah jelas, maut telah dikalahkan!  Langit dan bumi yang baru sudah ada di depan kita.  Allah akan memperbaharui segalanya menjadi baru.  Karena itulah semua yang kita kerjakan pada hari ini tidaklah sia-sia.  Tentu saja semuanya ini kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita tetap tidak tahu masa depan kita secara mendetail, namun dengan arahan kisah besar Tuhan di Alkitab, maka kita bisa melihat bahwa Allah akan membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.  Ada makna dari segala yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan ini!  Benar bahwa kita harus menikmati kehidupan dan kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada kita; benar bahwa kita harus takut kepada Tuhan yang begitu berkuasa dan agung; namun kita menyadari dari penyataan Allah dalam Yesus Kristus bahwa Allah sedang memperbaharui segala ciptaan menjadi baru melalui karya penebusan-Nya di atas kayu salib.  Karena itulah tidak hanya menikmati hidup dan takut akan Allah, kita mengasihi Dia dan melayani Dia dengan sepenuh-penuhnya—dengan segala yang kita miliki;  sebab, sekali lagi, “di dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *