Khotbah Perjanjian Lama

Hidup dalam Waktu Tuhan

 

Segala Sesuatu Ada Waktunya

Pengkhotbah bukan seorang yang asing bagi kita.  Minimal kita sudah mendengarkannya dikhotbahkan selama beberapa kali bulan-bulan ini.  Ada banyak perdebatan mengenai siapakah orang ini sebenarnya, ada yang mengatakan dia Salomo, ada yang mengatakan dia orang lain yang sekadar mengarang kisah hikmat.  Sebenarnya tidak terlalu penting mengetahui siapakah Pengkhotbah sebenarnya.  Satu hal yang jelas, ia menyebut dirinya sendiri sebagai Pengkhotbah dari ayat 1. Ia adalah seorang guru hikmat dan ia berusaha untuk menyelidiki segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Persoalan waktu yang tepat adalah apa yang juga dipikirkan oleh Pengkhotbah.  Pada masa itu, serupa dengan masa kini, waktu yang tepat merupakan hal yang penting untuk dimiliki.  Seperti yang dikatakan Amsal 15:23b “alangkah baiknya  perkataan yang tepat pada waktunya!”  Ayat 1-8 merupakan sebuah puisi yang menarik sekali untuk diperhatikan.  Puisi ini berupa kontras antara dua hal yang bertentangan, namun untuk masing-masing ada waktunya.  Ada waktu untuk lahir dan ada juga waktu untuk meninggal.  Bahkan ada waktu untuk membunuh dan menyembuhkan; mengasihi dan membenci, waktu untuk perang dan waktu untuk damai.  Kita tentu menyadari bahwa hari-hari ini tidak seharusnya ada waktu untuk membunuh orang!  Tetapi pada masa PL membunuh yang dimaksud adalah membunuh dalam konteks hukum, yakni hukuman mati.  Peperangan dan perdamaian juga demikian.  Bagaimanapun kita memandangnya, perlu untuk dicatat bahwa puisi ini tidak bermaksud memberikan himbauan untuk dilakukan.  Apa yang tertera dalam puisi ini adalah semata untuk menggambarkan keseluruhan pengalaman kehidupan manusia.  Ada waktu yang tepat untuk melakukan ini dan ada waktu yang tepat untuk yang lain. Kita tidak sebaiknya menangis ketika sahabat kita melangsungkan pernikahannya, sebaliknya kita tidak seharusnya tertawa terbahak-bahak ketika saudara kita meninggal dunia.  Kita tidak sepatutnya menari ketika upacara bendera, demikian pula kita berdiri tegak dan hormat ketika ada di kebaktian.  Juga tidak tepat untuk bergadang ketika berada di rumah dan tidur ketika berada di kebaktian!

Sampai sini tentu kita bisa mengamininya.  Kita semua bisa memahami bahwa segala sesuatu perlu memiliki waktu yang tepat.  Tetapi Pengkhotbah tidak berhenti sekadar menyampaikan kepentingan adanya waktu yang tepat.

Ayat 11 merupakan ayat yang sering dikutip orang, terutama apabila ada rencana yang tidak berjalan semestinya.  Misalnya ada yang tidak naik kelas, dikatakan “segala sesuatu indah pada waktunya” (padahal yang tidak naik tentu tidak merasakan hal demikian!  Enak saja yang mengutipnya).  Tetapi kata “indah” di sini sebenarnya lebih baik diterjemahkan “tepat” atau “pantas” (appropriate).  Maksudnya, Allah sendirilah yang menetapkan segala sesuatu itu tepat atau tidak pada waktunya.  Di ayat 14-15 Pengkhotbah melihat sekali lagi bahwa apa yang dilakukan Allah sudah tetap untuk selama-Nya; tidak bisa ditambah atau dikurangi.  Dikatakan juga bahwa “yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.”  Ini semakin menegaskan bahwa segala sesuatu yang sudah terjadi dan akan terjadi sudah dirancangkan Alah sebelumnya.  Lantas apakah ini merupakan hal yang baik?  Tidak bagi Pengkhotbah.  Ia menjadi frustrasi dengan semuanya ini.  Kenyataan bahwa Allah sudah menetapkan segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak memberikan penghiburan bagi dia, malah ia menyebutnya sebagai “kesia-siaan” kata yang favorit bagi Pengkhotbah.  Mengapa demikian?  Coba kita bayangkan.

Pernahkah kita mengupayakan suatu hal dengan demikian sulit, namun hasil akhirnya berbeda sedemikian rupa dengan apa yang kita harapkan?

Kita sudah bersiap-siap untuk bepergian pada hari itu, apa mau dikata bannya gembos di tengah jalan.  Akibatnya kita terlambat atau bahkan batal pergi ke tempat itu.  Atau kita sudah memprediksi keuntungan dari bisnis kita pada bulan-bulan ini, tiba-tiba saja banjir melanda segala stok barang yang sudah siap kita jual.  Papa saya dahulu punya bisnis yang cukup besar, namun ketika krisis moneter semuanya amblas dalam waktu yang sangat singkat.  Pertanyaannya adalah: untuk apa merencanakan dengan sedemikian rupa kalau begitu?  Seseorang bekerja hingga kaya, namun penerusnya yang bodoh menghabiskan segala kekayaannya dalam waktu sekejap.  Tidak heran Pengkhotbah bertanya “Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?”  Segala usaha tersebut akan percuma apabila Allah tidak menghendakinya, sebab apa yang sudah direncanakan Allah tidak dapat diubah-ubah lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *