Khotbah Perjanjian Lama

Hidup dalam Waktu Tuhan

 

Carpe Diem, Nikmati Hari Ini

Apa solusinya?  Pengkhotbah menawarkan carpe diem atau apa yang disebut sebagai ajakan untuk hidup untuk hari ini tanpa memikirkan masa depan.  Ia menyatakan “tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.  Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”  Apabila segala sesuatu sudah ditentukan Allah, maka apalah gunanya memusingkan masa depan kita?  Live for the present! Hiduplah untuk hari ini saja!  Memang ini terdengar seperti seruan orang putus asa atau desperate, tapi bukankah ini memang implikasi logis dari kenyataan yang diutarakan Pengkhotbah?  Selain dari pada itu, takutlah akan Allah, karena hanya Dialah yang mengetahui dan mengontrol masa depan.

Tetapi sekarang ini kita hidup dalam masa Perjanjian Baru di mana Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus.

Bukan berarti kita sudah bisa memahami masa depan atau menyelesaikan permasalahan sang Pengkhotbah di sini, namun oleh sebab kebangkitan, Paulus dengan berani menyatakan bahwa “jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).  Mengapa bisa tidak sia-sia?  Sebab Kristus sudah bangkit dari antara orang mati.  Kebangkitan-Nya bukan sekadar kebangkitan spiritual, namun kebangkitan tubuh.  Kristus tidak tetap mati, namun bangkit.  Artinya pengharapan kita sudah jelas, maut telah dikalahkan!  Langit dan bumi yang baru sudah ada di depan kita.  Allah akan memperbaharui segalanya menjadi baru.  Karena itulah semua yang kita kerjakan pada hari ini tidaklah sia-sia.  Tentu saja semuanya ini kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita tetap tidak tahu masa depan kita secara mendetail, namun dengan arahan kisah besar Tuhan di Alkitab, maka kita bisa melihat bahwa Allah akan membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.  Ada makna dari segala yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan ini!  Benar bahwa kita harus menikmati kehidupan dan kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada kita; benar bahwa kita harus takut kepada Tuhan yang begitu berkuasa dan agung; namun kita menyadari dari penyataan Allah dalam Yesus Kristus bahwa Allah sedang memperbaharui segala ciptaan menjadi baru melalui karya penebusan-Nya di atas kayu salib.  Karena itulah tidak hanya menikmati hidup dan takut akan Allah, kita mengasihi Dia dan melayani Dia dengan sepenuh-penuhnya—dengan segala yang kita miliki;  sebab, sekali lagi, “di dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *