Renungan

Homo Homini Lupus

Homo Homini Lupus

Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama, dan memasuki ladang anak-anak yatim. Karena penebus mereka kuat, Dialah yang membela perkara mereka melawan engkau.

(Amsal 23:10-11)

 

Homo homini lupus, demikianlah peribahasa latin yang diterjemahkan: manusia adalah serigala bagi manusia lain. Peribahasa ini ingin mengambarkan perilaku manusia yang kerap kali mengancam, merusak, dan bahkan menghancurkan manusia lain. Manusia seperti serigala buas yang siap menerkam korbannya.

 

Apa yang membuat manusia berperilaku bak serigala, bahkan terhadap manusia lainnya? Kerakusan untuk mendapatkan sesuatu. Kerakusan yang bahkan mengalahkan rasa kemanusiaan. Tidak mengherankan ada pelbagai bentuk kejahatan yang diperbuat manusia terhadap manusia yang lain.

 

“Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama, dan memasuki ladang anak-anak yatim. Karena penebus mereka kuat, Dialah yang membela perkara mereka melawan engkau” (Amsal 23:10-11). 

 

Amsal ini adalah peringatan kepada orang-orang yang merasa dirinya kuat sehingga melakukan tindakan yang merugikan pihak yang lemah, yakni anak-anak yatim, dengan memindah batas tanah. Sebuah perilaku manusia yang “memangsa” manusia lain.

 

Walaupun anak-anak yatim itu terlihat lemah, ada penebus yang kuat yang membela mereka. Kata “penebus” di bagian ini menunjuk pada orang yang masih memiliki hubungan darah dengan anak-anak yatim. Pada titik kritis dan krusial, penebus ini akan muncul dan membela hak anak-anak yatim. Berbeda dengan orang yang memangsa manusia lain, maka penebus ini datang untuk menolong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *