Khotbah Perjanjian Baru

Ibadah yang Sejati

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Roma 12:1-2

Shalom… tema yang akan kita renungkan pada saat ini adalah Ibadah yang Sejati. Mari kita dasari renungan kita hari ini dengan firman Tuhan yang terdapat dalam Roma 12:1-2.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 

Jemaat yang dikasihi Tuhan. Sering kali kita menganggap bahwa ibadah adalah hanya seperti yang kita lakukan di gereja-gereja. Kita berkumpul, memuji Tuhan, mendengarkan firman-Nya, memberikan persembahan… menerima berkat, dan sudah. Apakah memang seperti itu yang dikehendaki oleh Tuhan? Kita akan belajar bersama, bagaimana sebenarnya ibadah yang sejati itu kita jalani dalam kehidupan kita.

Saudara-saudara, ada satu ungkapan yang bunyinya demikian: “Lebih mudah menyembuhkan perut yang lapar dibanding menyembuhkan mata yang lapar”.  Menurut Saudara-saudara, pernyataan ini benar atau tidak. (Jemaat menjawab, “Benar”). Baik… apa pun jawaban Saudara, mari kita teliti kebenaran pernyataan ini. Kita mulai dari perut lapar dulu. Apakah perut yang lapar terjadi secara tiba-tiba atau ada prosesnya, Saudara? Ada prosesnya. Ya, ada prosesnya. Ya bertahap… tadinya kenyang, jadi agak lapar, lalu jadi sangat lapar. Lapar itu ada prosesnya, tidak mendadak. Berikutnya, kalau Saudara merasa sangat lapar yang terasa di perut atau di lidah? Di perut. Betul, biasanya malah disertai bunyi ‘keroncongan’ ya. Kalau sudah sangat lapar begitu makanan apa pun bisa dinikmati nggak? Bisa sekali pak. Nasi soto, nasi rawon, nasi pecel, nasi gudeg masuk nggak? Masuk banget. (jemaat tertawa). Jadi kalau yang lapar itu perut, mudah terpuaskan dan kenyang. Begitu ya.

Sekarang bagaimana apabila mata yang lapar. Apakah bisa terjadi, perut sudah kenyang, tetapi mata tetap lapar? Bisa, ya, Saudara? Perut kita sudah kenyang, tapi karena ada makanan favourite kita, kita masih kepingin. Saat jalan-jalan ke mal, tiba-tiba, “Eh, ada tas bagus… Eh, ada baju discount 90%, cocok saya pakai…” Itulah mata. Kita pergi dari rumah tidak berencana membeli baju, tetapi karena mata melihat discount 90%, kita akhirnya membeli baju. Perut kenyang, baju sudah banyak, tetapi ternyata mata bisa saja tetap lapar. Datangnya tiba-tiba, tidak bertahap. Itu karena yang lapar sebenarnya adalah hatinya; bukan di sini (menunjuk perut), tetapi di sini (menunjuk dada). Hatinya lapar karena melihat sesuatu yang menarik hati, kita jadi ingin makan atau membelinya. Lapar jenis ini hanya bisa diatasi oleh jenis makanan atau barang tertentu yang kita inginkan, dan sulit dipenuhi oleh makanan atau barang lain. Lapar mata inilah yang menyebabkan perilaku kita menjadi hedonis; sing penting seneng, sing penting happy! Dan, biasanya perilaku hedonis ini disertai dengan perilaku konsumtif. Jan-jane gak butuh, tapi pengin. (sebenarnya tidak butuh, tetapi ingin-red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *