Renungan Berjalan bersama Tuhan

Istri yang Berakal Budi

Istri yang Berakal Budi

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia Tuhan” (Amsal 19:14)

Sepanjang jalan hidup manusia selalu terkait dengan masalah warisan. Warisan bisa berupa harta benda, tetapi juga bisa berupa warisan nonmateri, misalnya warisan fisik—ia mirip sekali dengan ayah atau ibunya, sifat dan karakternya sama dengan mereka. Bukan itu saja, warisan yang tidak diinginkan juga dapat diturunkan seperti penyakit diabetes, darah tinggi, dan sebagainya. Warisan berarti “sesuatu yang ditinggalkan atau diteruskan” kepada generasi selanjutnya. Amsal mengamati bahwa warisan yang pasti turun-temurun adalah rumah dan harta benda. Mengapa diwariskan? Karena rumah dan harta benda tidak bisa dibawa mati! Ketika kita berpulang ke rumah Bapa, semua harta benda mulai dari yang tidak berharga sampai yang bernilai, termasuk emas, berlian, dan sebagainya, tidak akan bisa dibawa. Senang atau tidak senang, semuanya itu akan ditinggalkan menjadi warisan. Apa pun yang kita miliki di dalam dunia ini akan diwariskan!

Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, yang berarti rumah dan harta selalu diberikan turun-temurun kepada generasi selanjutnya. Kemudian, Amsal melanjutkan, “Tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia Tuhan.” Apa hubungannya di sini? Rumah dan harta yang merupakan warisan nenek moyang adalah barang-barang yang mati. Harta benda itu dapat berkembang berlipat ganda, tetapi juga dapat habis dalam waktu sekejap. Bisa berlipat ganda bila dikelola dengan baik; bisa juga musnah dalam waktu semalam bila tidak dikelola dengan penuh tanggung jawab, misalnya dipakai untuk judi. Semua harta benda warisan, baik yang berkembang atau yang dapat hilang dalam waktu sekejap, tetap saja merupakan barang mati.

Berbeda dengan istri yang bijaksana atau yang berakal budi, ia adalah karunia Tuhan. Amsal mengagumi dan memuji istri yang berakal budi, yang menggunakan pola pikirnya dengan baik sehingga menjalani hidupnya penuh dengan panjang sabar, bijaksana, tenang, mampu mengatur seluruh persoalan rumah tangganya. Hikmat seorang istri bukanlah warisan nenek moyang, tetapi karunia Tuhan! Maka Amsal sering mengatakan, “Berbahagialah suami-suami yang mempunyai istri yang berakal budi, atau yang bijaksana.” Pujian diberikan kepada istri yang mampu mengatur kehidupan rumah tangganya dengan kasih sayang yang berasal dari Tuhan. Istri yang demikian adalah karunia Tuhan dan jauh lebih berharga daripada rumah dan harta benda yang diwarisi dari nenek moyang. Dengan kata lain, istri yang berakal budi adalah istri yang dikaruniai hikmat Tuhan untuk mengelola rumah tangganya dengan damai sejahtera-Nya. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku bersyukur untuk anugerah-Mu yang luar biasa sehingga bisa menjadi seorang istri yang berakal budi. Pimpinlah aku untuk terus mengembangkan kasih karunia Tuhan ini dalam kehidupan keluargaku. Aku bersyukur juga menjadi suami yang mempunyai istri yang berakal budi. Pimpinlah aku sebagai kepala keluarga supaya dapat memelihara kasih karunia ini dengan baik. Aku juga bersyukur sebagai anak-anak yang mempunyai ibu yang berakal budi, pimpinlah aku untuk meneruskan kasih karunia Tuhan ini dalam kehidupanku sehari-hari.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja, supaya dapat mempersiapkan para istri menjadi istri yang berakal budi. Pimpinlah pembinaan Komisi Dewasa, komunitas Pasutri untuk terus belajar bagaimana menjadi istri yang berakal budi dan takut akan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *